Saturday, November 08, 2008

Mengapa menulis

Bagi saya, berbagai gosip dengan teman-teman lain sehabis mengajar bisa jadi menambah rasa persaudaraan di antara kami semua. Kebiasaan membicarakan masalah-masalah sederhana sampai yang luar biasa hebatnya di sekolah sudah menjadi trade mark. Sayangnya saya tidak terlalu bisa mengikuti. Teman-teman akan selalu ramai kalau saya ikut bergabung.

Saya memilih melakukan kegiatan lain. Saya belajar menulis di blog yang saya buat. Ada sebuah pertanyaan yang saya sampaikan kepada seorang ibu guru: "Ibu tahu tidak, mengapa saya harus menulis?" Saya tunggu jawaban itu sekitar satu menit. Tidak ada jawaban. Saya ulangi lagi pertanyaan saya: "Tahu, Bu?" Jawabannya, tidak. Kemudian saya menjelaskan kepada ibu guru yang selalu saya panggil Bu Guru Cantik itu dengan berkata:

Begini, Bu. Saya selalu menyempatkan menulis sesuatu di blog ini karena saya merasa yakin bahwa dengan menulis saya ini berlatih berpikir. Dengan selalu berlatih menggunakan pikiran, saya bisa menghindari pikun. Latihan seperti ini juga penting untuk membuktikan apakah yang kita pikirkan itu layak diperhatikan oleh orang lain atau tidak. Kalau sekarang ini, posisi ibu yang seharusnya menuliskan apa yang perlu untuk disebarkan kepada masyarakat luas.

Banyak sebenarnya yang saya harapkan dari kegiatan menulis ini. Saya sendiri merasa bahwa cita-cita saya adalah menjadi seorang penulis, bukannya menjadi guru seperti sekarang. Hanya saja nasib membawa ke jalan pengabdian dulu. Proses belajar menulis agak saya anggap serius. Saya tidak ingin lagi menyia-nyiakan waktu untuk sekedar bergosip.

Pada sebuah posting "Writing to Yourself," yang ditulis oleh Kenneth W. Davis, dikatakan bahwa sebuah tulisan, selain untuk mengkomunikasikan pikiran dan gagasan kepada orang lain, juga berfungsi untuk berkomunikasi kepada diri sendiri. Saya mengagumi Professor Davis karena tulisannya yang sederhana tetapi sangat bermakna.