Monday, November 24, 2008

Pendidikan kita, sementara ini

Sudah merupakan berita utama. Kekerasan dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan juga didukung oleh polisi sebagai penggembira. Dikatakan bahwa generasi muda memiliki ‘energi’ yang luar biasa hebatnya, dan sayang tidak tersalurkan di lingkungan pendidikan. Salah dan juga tidak salah kalau kalangan terdidik sekarang berubah menjadi manusia primitif. Lingkungan pendidikan yang membuat mereka brutal, beringas dan tidak terkontrol. Energi yang mereka miliki masih belum begitu terkuras meskipun mereka melakukan tawuran berulang kali. Mereka memiliki potensi yang maha dahsyat, sedang lingkungan pendidikan tidak memberikan peluang untuk berkembang. Hampir seluruh sistem pendidikan kita mencekoki mereka dengan informasi, informasi dan informasi. Energi mereka yang bukan hanya intelektual tidak tersalurkan. Ratusan berita berjejer:

•Tawuran Pelajar • Bentrok di Hasanuddin • Habis Berkelahi, DiapakanYa? •Perkelahian Antar Sekolah: Kenapa? •Mahasiswa bentrok •Tawuran antar Mahasiswa di Kupang Satu Tewas •Saling Tatap, Mahasiswa Bacok Mahasiswa •Mahasiswa Teknik Unkhair Sweeping Mahasiswa Pertanian •Mahasiswa Unkhair Ternate Bentrok Lagi •Mahasiswa Universitas 45 Makassar Tawuran Lagi •Mahasiswa Universitas Lampung Tawuran •Mahasiswa IPDN Meninggal di Barak Mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret Tawuran Korban Tawuran Dimakamkan •Bangsa yang Kerasukan •Wapres Nilai Mahasiswa Tawuran Primitif •Tawuran Lagi di Kampus Unhas •Jatuh Korban Tawuran Mahasiswa UKI dan YAI •Mahasiswa Makassar Tawuran, Mobil Dosen Dibakar •Gara-gara Nyalip Antri Makan, Mahasiswa Unisba Tawuran •Tawuran Trisakti Sudah Mulai Mereda


Mahasiswa Primitif

TEMPO Interaktif, Jakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik keras aksi tawuran antar mahasiswa ….. “Kalau pakai batu dan api kembali ke jaman primitif,” kata Kalla.

Kalla mengatakan, mahasiswa merupakan kalangan intelektual, sehingga perbedaan pandangan tentu dapat diselesaikan secara layak sesuai bidangnya di akademi. Kalau justru menempuh secara kasar dalam menyelesaikan persoalan, artinya mahasiswa kembali ke jaman kuno. “Itu primitif,” tegasnya sekali lagi.

Primitif atau tidak primitif, kita menjadi sedih. Kalau di tingkatan pemerintah bisa saja main kritik dengan berbagai label dan istilah, semestinya kita bisa menyaksikan solusi yang jitu pada pembenahan sistem pendidikan. Kondisi pendidikan nasional cenderung stigmatis. Solusinya tidak hanya dengan pelabelan.