<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364</id><updated>2011-11-28T07:24:39.341+07:00</updated><category term='talenta'/><category term='terjemahan'/><category term='english'/><category term='membaca'/><category term='disiplin'/><category term='potrait'/><category term='petruk bisa jadi ratu'/><category term='winning team'/><category term='reflective mind'/><category term='konflik'/><category term='effective school'/><category term='action research'/><category term='leadership'/><category term='manajemen sekolah'/><category term='memilih pemimpin'/><category term='haiku'/><category term='profesionalisme'/><category term='cerita guru'/><category term='menulis'/><category term='mengenal kamu'/><category term='fenomena'/><category term='pembelajaran diri'/><category term='teacher&apos;s eyes and ears'/><category term='blogging'/><category term='komunikasi'/><title type='text'>Teacher's Eyes and Ears</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-509736882484537218</id><published>2009-08-30T13:04:00.004+07:00</published><updated>2009-08-30T13:30:47.023+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disiplin'/><title type='text'>Perjamuan di bulan ini</title><content type='html'>&lt;script src="http://cdn.socialtwist.com/2009042516205-3/script.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div&gt;Undangan sudah disebar kemana-mana. Saya mendapatkan undangannya juga, namun tak berminat untuk menghadirinya. Dalam daftar mata acaranya tertuliskan bahwa undangan itu dimaksudkan khusus untuk mensukseskan rintisan sekolah internasional. Kalau keperluannya untuk hal itu, mengapa kita yang tidak terlibat dibawa-bawa?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagian teman bercerita tentang kerasnya ungkapan kepala sekolah terhadap huru dan karyawan yang ikut mematuhi apa saja yang ditetapkannya. Kalau tidak patuh akan disikat, katanya. Dari sekian banyak cerita, ungkapan 'tak sikat' ini menjadi trade mark kepala sekolah. Terakhir kali terdengar justru dalam acara tasyakuran setelah upacara 17 Agustus. Guru yang menjadi panitia karnaval disemprot habis-habisan dan akan 'disikat' juga. Tak ada ungkapan terima kasih sebab kepala sekolahnya tidak suka penampilan regu karnaval.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari ini juga ada perjamuan yang digelar persis saat Maghrib. Katanya sambil berbuka puasa. Untuk setiap acara yang disediakan makan-makan, saya memang tidak ingin datang. Jadi undangan itu pun tidak akan saya hadiri. Biar disikat!&lt;/div&gt;&lt;a style="border:0;padding:0;margin:0;" href="http://tellafriend.socialtwist.com/" onclick="return false;"&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;data:post.title&gt;&lt;/data:post.title&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="border:0;margin:0;padding:0;" alt="SocialTwist Tell-a-Friend" src="http://images.socialtwist.com/2009042516205-3/button.png" onmouseout="STTAFFUNC.hideHoverMap(this)" onmouseover="&amp;quot;STTAFFUNC.showHoverMap(this, \&amp;quot;2009042516205-3\&amp;quot;, \&amp;quot;&amp;quot; + data:post.url + &amp;quot;\&amp;quot;, STTAFFUNC.prevSp(this))&amp;quot;" onclick="&amp;quot;createWidget(this, \&amp;quot;2009042516205-3\&amp;quot;, \&amp;quot;&amp;quot; + data:post.url + &amp;quot;\&amp;quot;,STTAFFUNC.prevSp(this),\&amp;quot;desc\&amp;quot;)&amp;quot;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-509736882484537218?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/509736882484537218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/509736882484537218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2009/08/perjamuan-di-bulan-ini.html' title='Perjamuan di bulan ini'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-6606806967560212351</id><published>2009-06-18T01:44:00.006+07:00</published><updated>2010-04-13T02:33:57.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teacher&apos;s eyes and ears'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='effective school'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Masih perkara sekolah internasional</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Perkembangan terkini di dunia pendidikan nasional adalah munculnya semangat berapi-api dari pengelola sekolah untuk mendirikan sekolah unggulan dengan label 'internasional'. Dengan hasrat kuat untuk mengusung predikat internasional ini, harapan pemerintah yang disambut manajemen sekolah adalah keunggulan yang sejajar dengan sekolah-sekolah di dunia barat. Sederhananya, sekolah internasional harus memiliki ruang ber-AC, fasilitas pembelajaran yang canggih, bahasa Inggris dijadikan media komunikasi dan lain sebagainya. Kebingungan di pihak pemerintah dan juga manajemen sekolah tentang bentuk baku dari sekolah yang bertaraf internasiona ini muncul dan menjadi isu bersama.&lt;/blockquote&gt;Apa yang sebenarnya dikehendaki pemerintah dengan mendorong dunia pendidikan untuk ikut bergeliat menunjukkan label-label internasional di berbagai jenjang pendidikan ini? Benarkah pemerintah sedang menggalakkan upaya untuk mengangkat kualitas pendidikan nasional yang sudah terperosok terlalu dalam seperti sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari banyak kalangan pendidikan sendiri muncul berbagai penafsiran yang menilai pemerintah sedang kebingungan mencari pola-pola pengembangan pendidikan yang tepat dan berkualitas. Sistem pendidikan kita dinilai salah arah ketika fokus pendidikan hanya mengarahkan siswa bersikap seperti gelas kosong yang harus diisi penuh. Anak didik tidak diajak mengenali potensi dirinya secara utuh, hanya kognisinya yang digembleng. Banyak potensi manusiawi yang ada di dalam diri anak didik sebagai bakat alaminya tidak dikembangkangkan secara utuh. Manusia terdidik di sistem pendidikan nasonal kita mereka yang mampu bersikap seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rumusan tentang pengembangan sekolah internasional di tingkat daerah bergulir, efek ke dalam wilayah manajemen sekolah juga berupa kegalauan untuk berpartisipasi mendirikan sekolah internasional juga. Perkara kesiapan internal maupun eksternal dalam menyambut lahirnya jabang bayi sekolah internasional seakan-akan tidak diperdulikan. Asalkan sekolah bisa menyediakan fasilitas, kurikulum dan guru pengajar yang sesuai tuntutan makan rintisan sekolah sekolah internasional wajib dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, pada saat rintisan sekolah internasional mulai ditetapkan, pengumuman ujian nasional dan sekolah menyatakan beberapa siswa tidak lulus ujian. Sungguh malang nasib siswa-siswa di sebuah sekolah yang akan dirintis menjadi sekolah internasional!&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.socialtwist.com/2009042516205-3/script.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;a href="http://tellafriend.socialtwist.com/" onclick="return false;" style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 0pt;"&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;data:post.title&gt;&lt;/data:post.title&gt;&lt;/span&gt;&lt;img alt="SocialTwist Tell-a-Friend" onclick="'" onmouseout="STTAFFUNC.hideHoverMap(this)" onmouseover="'" src="http://images.socialtwist.com/2009042516205-3/button.png" style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-6606806967560212351?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6606806967560212351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6606806967560212351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2009/06/masih-perkara-sekolah-internasional.html' title='Masih perkara sekolah internasional'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5813597868964001323</id><published>2009-06-17T08:36:00.003+07:00</published><updated>2009-06-17T09:12:09.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konflik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><title type='text'>Ujian Nasional: "Berapa yang tidak lulus?"</title><content type='html'>Pengumuman ujian nasional tahun 2009 ini cukup mengharu-biru dunia pendidikan. Sebelum resmi diumumkan tentang kelulusan siswa, yang terdengar adalah kecurangan dan kenyataan pahit dunia pendidikan yang menyebutkan adanya sekolah yang tidak bisa mengantarkan para peserta ujian lulus tahun ini. Kecurangan yang memedihkan hati para pendidikan adalah ikut sertanya kepala sekolah dalam lingkaran joki pengerjaan soal-soal ujian. Hasilnya justru di luar dugaan, yaitu total seluruh peserta ujian tidak lulus di sekolah tersebut. Inilah kejadian yang ramai dibicarakan di lingkungan pendidikan Jawa Timur, tepatnya kabupaten Ngawi. Sungguh pahit yang dirasakan oleh para pendidik mendengar para siswa berguguran tidak bisa melanjutkan proses pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Perjalanan pendidikan mereka terhambat dan harus mengulang satu tahun lamanya. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari enam mata pelajaran yang diujikan, Bahasa Inggris dan Matematika menjadi momok yang cukup banyak menjaring korban. Apa yang perlu dievaluasi di sini? Dua pelajaran tersebut memang tidak membumi di hati para pendidik dan anak didik. Bukan karena sulitnya kedua pelajaran tersebut. Selama visi kurikulum hanya sekedar memberikan ilmu pengetahuan dan tidak memiliki terobosan-terobosan agar kedua mata pelajaran tersebut tidak 'diasingkan' dari kehidupan real guru dan siswa, maka akan banyak lagi korban-korban keganasan dua mata pelajaran itu. Selama sistem pembelajarannya tidak terkendali untuk mencapai posisi tuntas, kita akan selalu bertanya lagi setiap tahunnya: "Berapa yang tidak lulus?"  &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kelulusan siswa yang ditentukan dengan Ujian Nasional patut dipikirkan dan dikaji ulang. Ini sudha menjadi polemik di dunia pendidikan Indonesia selama bertahun-tahun. Hambatan komunikasi antara mereka yang berada di birokrasi pendidikan dan para pendidik yang benar-benar berada di lapangan pendidikan telah menyebabkan proses pengambilan keputusan pada masalah Ujian Nasional tidak kunjung usai. Sebagian pakar menyatakan bahwa Ujian Nasional alat evaluasi yang tidak benar-benar mengukur potensi dan kemampuan siswa. Aneka ragam kondisi pendidikan mikro di seluruh wilayah Indonesia tidaklah mungkin tercakup dengan sebuah alat evaluasi yang bersifat makro. Pakar pendidikan pada posisi ini lebih cenderung untuk diadakannya peningkatan 'proses' pendidikan mikro yang dilanjutkan dengan suatu keputusan untuk melaksanakan 'ujian sekolah' untuk menentukan kelulusan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Birokrasi berpandangan lain. Ujian Nasional difungsikan untuk mengukur standar pendidikan secara makro di seluruh wilayah Indonesia. Tanpa adanya Ujian Nasional, pelaksanaan program pendidikan secara menyeluruh tidak bisa diketahui standarnya. Polemik ini masih berlangsung dan mengambang keputusannya. Menteri Pendidikan Nasional yang pada awalnya berjanji untuk mengkaji ulang program Ujian Nasional ini seakan sudah lupa dengan janjinya. Kita para pendidik akan masih bertanya terus: "Berapa yang tidak lulus?" Pada tahun ini sudah ada korban, maka marilah kita bersabar untuk menunggu korban-korban berikutnya di masa mendatang. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5813597868964001323?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5813597868964001323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5813597868964001323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2009/06/ujian-nasional-berapa-yang-tidak-lulus.html' title='Ujian Nasional: &quot;Berapa yang tidak lulus?&quot;'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-2646287094517749396</id><published>2009-06-15T20:06:00.005+07:00</published><updated>2009-06-18T01:30:28.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Terima kasih bapak sudah mengelola web sekolah!</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Ada bedanya antara yang orang tahu dan yang tidak. Orang yang bijaksana lebih tinggi derajatnya daripada orang yang sekedar tahu. Di posisi lain ada juga orang yang tidak tahu tetapi mengaku tahu segalanya. Dengan sikapnya yang berlebihan, orang yang tidak seberapa pengetahuannya atau tahu apa-apa sama sekali bisa mengalahkan orang yang tahu dan mengerti. Orang berilmu lebih sering tidak menonjolkan diri.&lt;/blockquote&gt;Web sekolah merupakan barang yang mewah. Tidak semua sekolah bisa mendapatkan fasilitas yang cukup sehingga bisa mengembangkan web sekolah. Selain fasilitas, ilmu pengetahuan, informasi dan juga ketrampilan diperlukan oleh mereka yang bisa diserahi mengelola web sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pengembangan awal, web sekolah mungkin dirancang dengan kebutaan informasi. Proses penggalian agar sebuah web sekolah bisa online dan dijadikan sumber informasi bagi lingkungan internal dan masyarakat sudah termasuk proses pengembangan tingkat lanjutan. Kepedulian manajemen sekolah merupakan syarat utama dalam kelangsungan web sekolah. Seberapapun keahlian dari pengelola web, jika ternyata manajemen sekolah tidak memberikan dukungan yang sewajarnya maka pengelola web sekolah tidak lagi dianggap sebagai seorang profesional, melainkan sekedar orang upahan. Guru dan siswa menjadi target utama untuk meningkatkan kualitas web sekolah. Seumpama web sekolah sudah terbentuk, sedangkan guru-gurunya masih buta perkara komputer, apalagi internet, bisa dipastikan bahwa web seklah tidak terlalu bermanfaat sebagai alat komunikasi secara internal. Tulisan di web sekolah akhirnya hanya menjadi 'barang pesanan' yang tidak bermutu. Bagi siswa, internet dan web sekolah merupakan sarana belajar yang bisa diandalkan sekarang ini. Di sinilah siswa yang kreatif bisa memupuk bakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pengalaman pribadi sebagai guru dan sekaligus pengelola web sekolah. Setelah satu tahun lamanya berkorban untuk tetap melaksanakan tugas sebagai webmaster, tiba-tiba saja kepala sekolah yang setahu saya tidak mengerti tentang dunia internet mengatakan di depan banyak orang: "Terima kasih banyak sudah mengelola web sekolah selama satu tahun ini. Untuk tahun berikutnya saya sudah menetapkan petugas baru. Ruangan web sekolah nantinya harus dikosongkan saja. Bapak pindah ke ruang guru." Begitulah sikap seorang kepala sekolah yang maunya menang sendiri. Sepertinya dia sudah terlalu banyak memberikan upah kepada si pengelola web sekolah. Karena dialah yang berkuasa, dia boleh berbuat apa saja di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya berkata: "Emang gua pikirin!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-2646287094517749396?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2646287094517749396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2646287094517749396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2009/06/terima-kasih-bapak-sudah-mengelola-web.html' title='Terima kasih bapak sudah mengelola web sekolah!'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-1653498064102858830</id><published>2009-06-15T09:16:00.003+07:00</published><updated>2009-06-15T09:43:23.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konflik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Jangan pernah berhenti menulis pak guru!</title><content type='html'>"Tulisan bapak, bagus!" Begitu sempat saya dengan beberapa teman mengomentari tulisan saya. Hanya pujian yang muncul dari teman-teman yang tidak memiliki perasaan dengki dan hasut kepada saya. Mereka berterus terang menyatakan masalah itu. Mereka bisa memahami perasaan dan pemikiran saya melalui posting-posting di blog. Bahkan ada banyak yang maunya link ke blog yang saya miliki. Mereka selalu membahas tentang tulisan-tulisan saya bila saya posting baru. Inilah kondisi yang membuat saya terus saja berkarya dan mengasah kemampuan saya menulis melalui blog. Saya sendiri tidak memiliki keraguan sedikit pun untuk menulis, bahkan pada hal-hal yang dianggap tabu oleh teman-teman saya. Prinsip blog saya adalah ekspresi jujur seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terbersit dalam hati saya: "&lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2009/06/03/082340/1141789/10/dewan-pers-akan-kunjungi-prita-di-lp-tangerang"&gt;Bagaimana kalau nasib saya seperti Prita yang mendapatkan masalah sebagai seorang netter&lt;/a&gt;?" Kalau membaca &lt;a href="http://sawali.info/2009/06/11/haruskah-uu-ite-menjadi-%E2%80%9Cbom-waktu%E2%80%9D-buat-bloger/"&gt;undang-undang IT&lt;/a&gt;, resiko paling buruk bagi saya sebagai guru yang sukanya ngeblog adalah diseret pak polisi karena dituduh mencemarkan nama baik seseorang. Hukumannya lebih berat dari koruptor atau nggak ya? Sampai pada pemikiran ini saya tidak merasakan ketakutan yang sangat. Tidak ada ceritanya bahwa saya akan mengendurkan pemikiran-pemikiran kritis yang saya miliki sebagai guru yang mampu melihat dan mendengar sendiri kondisi nyata di dunia pendidikan. Saya yakin, hanya dengan pemikiran kritis saja pendidikan yang baik bisa dikembangkan. Alasan lain karena saya juga melihat banyaknya lembaga pendidikan yang ditangani oleh orang-orang yang justru akan menghancurkan visi dan misi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birokrasi pendidikan sendiri sangat jarang mau mendengarkan pemikiran guru. Saya sangat tahu persis betapa banyaknya peraturan yang tumpang tindih di dunia pendidikan kita sampai saat ini.  Guru juga jarang bisa mendapatkan kesempatan untuk berkembang sebab semua pintu yang mengarah kepada profesionalisme guru lebih lancar menerima orang yang berduit daripada mereka yang benar-benar berkualitas. Jabatan bisa saja dibeli, begitu banyak orang bilang. Apapun kemampuan yang kamu miliki, kalau tidak memiliki koneksi dengan orang-orang di departemen, ya tidak usah banyak berharap. Jadi guru saja sampai kamu purna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kondisi-kondisi seperti itu tidak bisa membuat para guru berpikir kritis? Jelas salah! Saya mengenal banyak guru yang bisa menyuarakan pikiran-pikiran kritis mereka tentang dunia pendidikan dalam obrolan santai. Tetapi mereka tidak mampu bersuara kritis apabila diminta untuk menuliskannya dengan media apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mewakili banyak teman untuk bersura: "Jangan pernah berhenti menulis pak guru!" Hal ini juga berfungsi untuk menguatkan hati saya. Saya harus tetap menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-1653498064102858830?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1653498064102858830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1653498064102858830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2009/06/jangan-pernah-berhenti-menulis-pak-guru.html' title='Jangan pernah berhenti menulis pak guru!'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-255030542298024902</id><published>2008-12-11T16:16:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:30:01.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haiku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='winning team'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='potrait'/><title type='text'>A Potrait: "Success"</title><content type='html'>&lt;div style="margin: 0px auto 10px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SUDaaKY--zI/AAAAAAAABJU/_fdSVrdP8sw/s1600-h/collage.jpg"&gt;&lt;img alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SUDaaKY--zI/AAAAAAAABJU/_fdSVrdP8sw/s320/collage.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A memory I engraved days ago&lt;br /&gt;Be a champion, worth to celebrate&lt;br /&gt;For others to see, the real us&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://picasa.google.com/blogger/" target="ext"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-255030542298024902?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/255030542298024902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/255030542298024902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/12/champion-ever-after.html' title='A Potrait: &quot;Success&quot;'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SUDaaKY--zI/AAAAAAAABJU/_fdSVrdP8sw/s72-c/collage.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-1245183379835792286</id><published>2008-12-05T17:50:00.001+07:00</published><updated>2009-06-18T00:45:16.581+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konflik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profesionalisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Dikotomi guru dan sertifikasi guru</title><content type='html'>Seorang guru SMK Diponegoro 3 Kedungbanteng-Purwokerto, Sutrisno menuliskan opininya dengan judul “Kaji Ulang Sertifikasi Guru 2008“. Tulisan ini dimuat dalam sebuah situs Suara Merdeka Dalam paparannya Sutrisno menyodorkan argumentasi awal bahwa yang berjuang demi kemajuan dan kecerdasan bangsa adalah guru, tidak ada label guru PNS dan non-PNS. Berangkat dan suksesnya tim olimpiade pelajar ke International Mathematical Olympiad (IMO), 10-22 Juli 2008 di Madrid, Spanyol adalah berkat dukungan dan bimbingan guru. Label guru tidak tetap, guru honorer, guru swasta, guru negeri dan label lainnya tidak perlu disebutkan dalam penyertaan sukses pelajar yang dibimbing. Tidak pula disinggung bagaimana cerita perjuangan guru dan kesejahteraannya dibalik sukses para pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok guru, merupakan profesi yang mulia, karena dari beliaulah, kita tahu ilmu pengetahuan dan etika. Tanpa didikan mereka, mungkin kita masih dalam era ketertinggalan. Dari mereka pula, maka anak-anak cerdas Indonesia lahir dan berjaya dalam olimpiade pengetahuan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah selayaknya, dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Karena fakta di lapangan, masih ada guru yang memperoleh penghasilan di bawah upah minimum regional (UMR). Ironis bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi diharapkan menjadi jawaban terhadap masalah kesejahteraan guru. “Guru, menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 1 adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Dengan ini pula kemudian pemerintah menjalankan program sertifikasi mulai tahun 2006, 2007 sampai terakhir pada tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengamatan Sutrisno, pelaksanaan sertifikasi masih cenderung dikotomis dengan membeda-bedakan guru yang mengajar di sekolah negeri dan sekolah. Apa yang membuat Sutrisno cukup yakin dengan argumennya? Berikut ini kutipan dari pandangan Sutrisno:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008 merupakan generasi kedua sertifikasi guru. Dalam pedoman penentuan peserta sertifikasi ada ketentuan bahwa ”kuota guru yang berstatus PNS minimal 75 persen dan maksimal 85 persen, kuota bukan PNS minimal 15 persen dan maksimal 25 persen, disesuaikan dengan proporsi jumlah guru pada masing-masing daerah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kita adalah mengapa kuota PNS minimal 75 persen dan maksimal 85 persen? Mengapa kuota guru swasta minimal 15 persen dan maksimal 25 persen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari data Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas tahun 2007, jumlah guru semua tingkat pendidikan yang berstatus PNS sebanyak 1.528.472 guru dan non-PNS sebanyak 1.254.849 guru dengan total jumlah total se-Indonesia 2.783.321 guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat data di atas, perbandingan guru PNS dan swasta yang ada, maka kuotanya adalah 55 persen untuk guru PNS, dan 45 persen untuk guru swasta. Lalu dari mana angka 75-85 persen untuk guru PNS dan 15-25 persen untuk guru swasta? Karena dalam buku pelaksanaan sertifikasi, tidak ditemukan penjelasan mengenai persentase kuota tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan perlakuan antara guru negeri dan guru swasta bukan masalah baru. Dari sisi penghargaan material gaji, kondisi kesejahteraan guru di kedua pihak terpaut jauh. Katakanlah bila sekarang ini ada upaya memperpendek kesenjangannya dengan muncul model guru kontrak, tidak semua guru bisa dianggap menjadi guru kontrak yang digaji dengan anggaran dana APBD setempat. Setelah berjalannya sertifikasi yang bertujuan untuk mengubah nasib guru, pemerintah masih bersikap dikotomis terhadap guru dan kesejahteraan mereka. Perlakuan dikotomis ini bisa dibahasakan sederhana, yang bukan PNS sabar dulu! Pernyataan yang sering diungkapkan kepada guru di antaranya: “Guru harus berjuang dengan tulus dan ikhlas.” Padahal, kalau kita simak dari mereka yang bukan PNS, mereka mengatakan “layaknya anak tiri!”   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-1245183379835792286?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1245183379835792286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1245183379835792286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/12/dikotomi-guru-dan-sertifikasi-guru.html' title='Dikotomi guru dan sertifikasi guru'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-4864972793413794843</id><published>2008-12-03T09:18:00.003+07:00</published><updated>2009-06-18T00:49:29.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='talenta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><title type='text'>Talenta di sekolah</title><content type='html'>Satu di antara sekian banyak talenta yang dimiliki anak didik adalah di bidang seni tarik suara. This is fun. Banyak orang yang bisa menikmatinya-- penyanyi atau penonton. Semua bisa bergembira. Sayang talenta untuk beraksi ini tidak mungkin dimiliki semua orang. Kalaupun ada yang sudah memiliki talenta, ada kemungkinan buruk bahwa lingkungan tidak mendukung perkembangannya. Talenta anak didik, atau bahkan orang dewasa, akan berkembang pada kondisi-kondisi yang tepat. Begitu dukungan untuk mengembangkan bakat itu tersedia banyak, maka bisa dipastikan berkembangnya orang-orang sukses di bidangnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah tidak selalu menjadi tempat yang memadai untuk membangun talenta gemilang pada anak didik. Hambatannya adalah sistem pendidikan dan manajemen kurikulum sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-4864972793413794843?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4864972793413794843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4864972793413794843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/12/membangun-talenta-anak-didik_03.html' title='Talenta di sekolah'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-3713647478107680663</id><published>2008-11-30T10:59:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:50:24.810+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teacher&apos;s eyes and ears'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Pakta Kejujuran versus Fakta Pendidikan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sekitar bulan Juli 2008 yang lalu, Bupati Bojonegoro Suyoto memerikan suatu imbauan yang tidak &lt;em&gt;sewajarnya&lt;/em&gt; kepada seluruh lembaga pendidikan di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Imbauan tersebut dilabeli dengan istilah "Pakta Kejujuran". Dengan imbauan itu kita bisa melihat sebagian dari harapan seorang bupati, bahwa dunia pendidikan harus mau berubah dengan menjalankan paradigma pendidikan yang jujur. Dengan kejujuran baik dari para guru maupun siswa, serta unsur pendidikan lain, keberhasilan pendidikan tentu saja bukan lagi bohong-bohongan. Keberhasilan pendidikan bukan lagi yang datang tiba-tiba, bukan yang tidak pernah disangka dan murni sebagai efek usaha keras dan belajar dengan sungguh-sungguh. Jujur adalah kata kunci menuju keberhasilan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sangat percaya bahwa tidak mungkin ada keberhasilan tanpa usaha dan kerja keras. Himbauan, dengan label "Pakta Kejujuran", seperti di atas bukanlah yang &lt;em&gt;sewajarnya &lt;/em&gt;. Sebagian besar kita menyaksikan sendiri bagaimana fakta sebenarnya terkait dengan sistem pendidikan di negeri ini. Banyak di antara kita yang mengelus dada. Perasaan tidak puas sudah terlontar di sana sini. Paling tidak, &lt;a href="http://pakguruonline.pendidikan.net/jujurkah_pendidikan_kita.html#" mce_href="http://pakguruonline.pendidikan.net/jujurkah_pendidikan_kita.html#" title="Jujurkah Pendidikan Kita?"&gt;Kemalawati&lt;/a&gt; dalam sebuah artikel yang muncul &lt;a href="http://pakguruonline.pendidikan.net/jujurkah_pendidikan_kita.html#" mce_href="http://pakguruonline.pendidikan.net/jujurkah_pendidikan_kita.html#" title="Jujurkah Pendidikan Kita?"&gt;PakGuruOnline&lt;/a&gt; sempat mempertanyakan: "Jujurkah Pendidikan Kita?" Dalam artikelnya, dia memaparkan dua kondisi yang kontras, dan membuat para pendidik menjadi prihatin. Kondisi pertama menyebutkan adanya siswa secara akademik, menurut nilai sehari-hari dan kemampuan yang mampu ditunjukkannya di hadapan guru, bahkan menjadi juara dalam lomba karya ilmiah tingkat nasional ternyata tidak lulus dalam ujian nasional. Sementara itu, seorang siswa atau banyak siswa lain yang selalu membuat onar dan hampir tidak pernah belajar di sekolah dan di rumahnya terbukti lulus di ujian nasional. Bukan itu saja, banyak lagi siswa yang kemampuan sehari-harinya tidak bisa dibilang menggembirakan justru mendapati nilai-nilai ujiannya mendekati sempurna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sistem pendidikan nasional di negeri ini dijalankan oleh birokrat yang tidak terlalu cermat dengan fakta-fakta pendidikan di negerinya sendiri. Kita semua memang mengikuti berbagai macam perubahan di berbagai kebijakan termasuk kurikulum, misalnya. Tetapi, benarkah kurikulum yang sempat disodorkan di masyarakat pendidikan nasional berjalan dan berfungsi secara efektif? Belum sempat dibuktikan. Kalaupun belum efektif, mengapa disodorkan lagi bentuk kurikulum lain? Sebab adanya tuntutan proyek.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara jujur kita membenarkan tuntutan masyarakat umum tentang perlunya kualitas pendidikan kita ditingkatkan. Pakta Kejujuran adalah wujud tuntutan masyarakat luas yang diwakilkan kepada seorang bupati di Kabupaten Bojonegoro. Respon dari himbauan tersebut bisa kita lihat bahwa hampir semua sekolah mulai dari SD, SMP dan SMTA di wilayah Kabupaten Bojonegoro memasang baliho atau banner tentang perlunya kejujuran diterapkan di bidang pendidikan sebagai awal kesuksesan anak didik sekarang atau di kemudian hari. Pertanyaannya adalah, apakah harapan yang luar biasa ini cukup efektif dijalankan dengan himbauan saja? Benarkah baliho dan banner kejujuran sudah sangat berjasa mengubah sistem pendidikan kita? Jawaban dari sebagian pertanyaan serupa adalah disidangkannya empat pejabat dinas pendidikan Bojonegoro yang terlibat korupsi selama mereka mengendalikan program-program pendidikan di wilayah kerjanya. Guru dan siswa diwajibkan untuk jujur, sementara para pejabat bergerilya untuk tidak jujur. Ketimpangan demi ketimpangan di bidang pendidikan banyak sekali kita temui. Reaksi kita sementara ini lebih banyak mendiamkan karena sudah dianggap wajar. Yang tidak wajar justru kalau kejujuran yang digagas untuk dunia pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, jelas atau tidak jelas, kita semua mendengar bahwa plagiator ada dimana-mana--paling banyak di sekolah dan kampus. Ijasah asli tapi palsu ditawarkan di banyak tempat, bayar sekian sudah &lt;em&gt;sewajarnya&lt;/em&gt; disebut kalangan terdidik. Tidak terlalu sulit kita menemukan fakta bahawa orang-orang yang tidak kompeten pun bisa mendapatkan jabatan yang tinggi. Mengapa juga kita harus berpayah-payah? Paradigma pendidikan kita lebih cenderung pada ungkapan--&lt;em&gt;Kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah?&lt;/em&gt; Atau dibalik, &lt;em&gt;Kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit?&lt;/em&gt; Masyarakat umum jelas menjadi bingung. Jadi mana yang benar?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mau jujur atau tidak ya?&lt;/p&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-3713647478107680663?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3713647478107680663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3713647478107680663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/pakta-kejujuran-versus-fakta-pendidikan_30.html' title='Pakta Kejujuran versus Fakta Pendidikan'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-8158413943201574451</id><published>2008-11-24T20:45:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:51:22.064+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teacher&apos;s eyes and ears'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='effective school'/><title type='text'>Fenomena pendidikan nasional</title><content type='html'>&lt;p&gt;Saya tidak terlalu yakin dengan kapasitas saya untuk membahas tentang ‘fenomena pendidikan nasional.’ Saya masih terlalu awam. Meskipun saya seorang guru, jangkauan pemikiran saya sangatlah jauh untuk bisa membahas sebuah persolan yang sedmikian besar dengan tuntas. Oleh karena saya hanya menyoroti sebuah fenomena pendidikan yang sangat sering disoroti oleh media massa–tawuran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemarin TeveOne menyiarkan sebuah acara Talk Show tentang kasus perkelahian antar mahasiswa yang terjadi di Makasar. Dalam beritanya, kelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makasar terlihat tawuran antar mahasiswa, dan kemudian justru terlibat bentrok fisik dengan aparat kepolisian. Persoalan ini masih memanas. Satu hal menarik dalam acara Talk Show ini adalah sebuah ungkapan pakar yang menyatakan bahwa ‘para pemuda sebenarnya memiliki energi yang berlimpah.’ Sementara itu penyaluran energi yang mereka miliki kurang memenuhi sasaran. Aparat polisi yang sempat diwawancarai mengatakan bahwa para mahasiswa kurang cerdas dalam 3 how–how to think, how to behave, dan how to do. Kurang cerdasnya mahasiswa dalam mengembangkan potensi diri, memilah dan memilih 3 how dalam hidup mereka merupakan fenomena pendidikan yang bukan hanya bersifat personal atau lokal di sekolah dan kampus. Persoalan ini sudah menjadi fenomena nasional. Pendidikan nasional kita dianggap kurang mampu memberi sistem yang tepat bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pandangan bahwa sistem pendidikan nasional sangat buruk, sudah sering terlontar oleh berbagi kalangan. Pendidikan kita dianggap masih dikotomis karena cenderung untuk memaksimalkan potensi kognitif siswa. Pengembangan potensi afektif dan psikomotorik siswa belum begitu maksimal. Dalam gambaran sederhana saja kita melihat bahwa siswa lebih banyak berada di dalam kelas untuk menggali dan mengumpulkan informasi. Ilmu dianggap sebagian satuan-satuan yang harus dicari dan dikumpulkan. Apresiasi dan kreasi terhadap ilmu sendiri seperti bukan menjadi tanggung jawab para pendidik pada saat ini. Sementara pandangan mengatakan bahwa anak yang bisa dikatakan pintar dan cerdas adalah mereka yang bisa menjawab 100 persen soal yang diberikan oleh guru ataupun pada saat ujian. Di sisi lain, siswa yang memiliki kecerdasan lain–linguistik, kinestetik, sosial atau yang lainnya–jarang mendapatkan tempat untuk berkembang di sistem sekolah pada saat ini. Potensi-potensi yang tidak berkembang ini menyebabkan anak didik menjadi frustasi dan berusaha melampiaskannya pada kegiatan-kegiatan yang tidak bisa diduga sebelumnya. Seumpama setiap anak didik mendapatkan saluran dari potensi yang mereka miliki, kita bisa berharap berkurangnya anak-anak yang dikatakan nakal, lebih suka membolos daripada mengikuti pelajaran di kelas, mengadakan demo dan juga tawuran. Seumpama pendidikan nasional dirancang dengan lebih menghargai potensi dasar manusiawi, kita berkeyakinan bahwa akan banyak muncul bibit-bibit olahragawan dari sekolah. Akan banyak seniman, penulis, penyair dan profesional yang tidak hanya mengandalkan potensis kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan kita harus berubah ke arah humanistik. Tawuran hanyalah salah satu efek ketidakcerdasan kita sebagai pendidik yang hanya mampu membesarkan kepala anak didik dengan asupan-asupan ilmu pengetahuan dan informasi. Kita belum begitu berhasil mendidik mereka untuk berbudi pekerti luhur, berbudaya dan mampu berjiwa sosial. Sistem pendidikan kita sementara baru berhasil mendidik ke arah kompetisi yang individualistik. Kita belum bisa mengajak mereka untuk bisa memikirkan kepentingan bangsa dan negara secara utuh. Kita baru bisa berbangga dengan sistem pendidikan yang bukan murni kita selaraskan dengan potensi bangsa dan negara. Kita lebih sering adopsi sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan nasional sekarang adalah sebuah fenomena kegagalan. Begitu banyak potensi generasi muda yang tidak berkembang dan mendapatkan porsi pendidikan yang layak. Seandainya kita bisa mengubah, pola-pola dogmatis bisa berganti yang pragmatis dan pola-pola sekuler ke arah holistik. Paradigma pendidikan yang harus diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-8158413943201574451?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8158413943201574451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8158413943201574451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/fenomena-pendidikan-nasional.html' title='Fenomena pendidikan nasional'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-2353933660073831316</id><published>2008-11-24T20:25:00.000+07:00</published><updated>2008-11-25T01:27:19.461+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan kita, sementara ini</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sudah merupakan berita utama. Kekerasan dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan juga didukung oleh polisi sebagai penggembira. Dikatakan bahwa generasi muda memiliki ‘energi’ yang luar biasa hebatnya, dan sayang tidak tersalurkan di lingkungan pendidikan. Salah dan juga tidak salah kalau kalangan terdidik sekarang berubah menjadi manusia primitif. Lingkungan pendidikan yang membuat mereka brutal, beringas dan tidak terkontrol. Energi yang mereka miliki masih belum begitu terkuras meskipun mereka melakukan tawuran berulang kali. Mereka memiliki potensi yang maha dahsyat, sedang lingkungan pendidikan tidak memberikan peluang untuk berkembang. Hampir seluruh sistem pendidikan kita mencekoki mereka dengan informasi, informasi dan informasi. Energi mereka yang bukan hanya intelektual tidak tersalurkan. Ratusan berita berjejer:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;font color="#ff9900"&gt;•Tawuran Pelajar  • Bentrok di Hasanuddin  • Habis Berkelahi, DiapakanYa?  •Perkelahian Antar Sekolah: Kenapa? •Mahasiswa bentrok •Tawuran antar Mahasiswa di Kupang Satu Tewas •Saling Tatap, Mahasiswa Bacok Mahasiswa •Mahasiswa Teknik Unkhair Sweeping Mahasiswa Pertanian •Mahasiswa Unkhair Ternate Bentrok Lagi •Mahasiswa Universitas 45 Makassar Tawuran Lagi •Mahasiswa Universitas Lampung Tawuran •Mahasiswa IPDN Meninggal di Barak Mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret Tawuran Korban Tawuran Dimakamkan •Bangsa yang Kerasukan •Wapres Nilai Mahasiswa Tawuran Primitif •Tawuran Lagi di Kampus Unhas •Jatuh Korban Tawuran Mahasiswa UKI dan YAI •Mahasiswa Makassar Tawuran, Mobil Dosen Dibakar •Gara-gara Nyalip Antri Makan, Mahasiswa Unisba Tawuran •Tawuran Trisakti Sudah Mulai Mereda&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;br&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa Primitif&lt;/em&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;font color="#666600"&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik keras aksi tawuran antar mahasiswa ….. “Kalau pakai batu dan api kembali ke jaman primitif,” kata Kalla.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kalla mengatakan, mahasiswa merupakan kalangan intelektual, sehingga perbedaan pandangan tentu dapat diselesaikan secara layak sesuai bidangnya di akademi. Kalau justru menempuh secara kasar dalam menyelesaikan persoalan, artinya mahasiswa kembali ke jaman kuno. “Itu primitif,” tegasnya sekali lagi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Primitif atau tidak primitif, kita menjadi sedih. Kalau di tingkatan pemerintah bisa saja main kritik dengan berbagai label dan istilah, semestinya kita bisa menyaksikan solusi yang jitu pada pembenahan sistem pendidikan. Kondisi pendidikan nasional cenderung stigmatis. Solusinya tidak hanya dengan pelabelan.&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-2353933660073831316?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2353933660073831316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2353933660073831316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/pendidikan-kita-sementara-ini.html' title='Pendidikan kita, sementara ini'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-3699217249310048025</id><published>2008-11-19T07:43:00.001+07:00</published><updated>2009-06-18T00:52:33.853+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Membaca masalah guru bersama Doni Koesoema</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;Sumber Kompas Online&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Mengurai Masalah Guru (Swasta)&lt;/div&gt; &lt;div class="subjudulidxcetak"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;&lt;span class="tglct"&gt;Rabu, 19 November 2008 | 00:57 WIB&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt; &lt;p align="center"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Doni Koesoema A&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalan nasib guru swasta yang merasa dianaktirikan dan diperlakukan tidak adil kian mencuat ke publik. Polarisasi antara guru swasta dan negeri sebenarnya bukan persoalan utama yang kita hadapi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masalah utama yang menjadi pangkal perdebatan adalah tidak adanya keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi martabat profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri, swasta, tetap, maupun honorer.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dua kekuatan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebenarnya, nasib guru lebih banyak ditentukan dua kekuatan, yaitu kekuatan negara dan kekuatan masyarakat. Kekuatan negara terhadap guru bersifat memaksa dan mengatur. Ini terjadi karena negara berkepentingan hanya mereka yang memiliki kompetensi dan layak mengajar di kelaslah yang boleh berdiri di depan kelas. Karena itu, negara mengatur berbagai macam kompetensi yang harus dimiliki guru sebelum mereka boleh mengajar di dalam kelas. Kualifikasi akademis, sertifikasi, kemampuan sosial, dan keterampilan pedagogis adalah hal-hal yang harus dikuasai guru. Berhadapan dengan aturan negara yang koersif ini, para guru tidak dapat berbuat apa-apa selain harus menyesuaikan diri. Sebab inilah satu-satunya cara agar profesi guru tetap berfungsi efektif dalam lembaga pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, masyarakat juga memiliki kekuatan kultur yang menentukan gambaran sosok guru. Guru harus memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu ramah, terbuka, akrab, mau mengerti, dan pembelajar terus-menerus agar semakin menunjukkan jati diri keguruannya. Masyarakat telah menentukan pola perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan guru di dalam kelas dan di luar kelas. Bahkan, masyarakat dengan kekuatan kulturalnya mengatur bagaimana guru harus berpakaian. Guru tak bisa seenaknya memakai jenis pakaian tertentu selama mengajar. Pelanggaran atas harapan masyarakat ini membuat individu guru kehilangan integritas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berhadapan dengan dua kekuatan ini, guru tidak memiliki kekuatan penawaran, selain mengikuti apa yang ditetapkan instansi di luar dirinya. Tidak jarang, norma sosial yang harus dilaksanakan guru menjadi rambu-rambu yang sebenarnya menjaga martabat guru itu. Ketika ada pelanggaran kode etik yang dilakukan guru, masyarakat akan menilai pribadi itu sebagai kehilangan kualitas keguruan dan dia tidak akan dipercaya. Karena itu, sanksi sosial, baik dari masyarakat maupun negara, sebenarnya bukan bersifat punitif, tetapi juga reparatif, yang membuat status dan martabat guru tetap berharga di mata masyarakat dan negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagian hakiki&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kekuatan memaksa negara dan kekuatan kultural masyarakat sebenarnya menjadi bagian hakiki yang mewarnai status seorang guru. Karena itu, tiap orang yang ingin menjadi guru harus mempertimbangkan dua tuntutan itu. Guru tidak bisa mengklaim dirinya sebagai guru jika negara dan masyarakat tidak memaklumkan keberadaan individu itu sebagai guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sayang, situasi sosial, politik, dan ekonomi kian membuat status guru terpencil dan terpinggir. Ini terjadi karena tuntutan tinggi yang dipaksakan pemerintah ternyata tidak dibarengi kesediaan pemerintah melindungi profesi guru. Bahkan, ada guru digaji di bawah upah minimum regional. Sedangkan masyarakat, terutama para pemilik yayasan pendidikan swasta, juga tidak dapat berbuat banyak karena alasan tak adanya dana untuk mengangkat guru-guru mereka menjadi guru tetap. Minimnya sumber daya yayasan sering menjadi alasan untuk tidak memerhatikan nasib guru, bahkan membebani masyarakat dengan cara menaikkan biaya pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Entah berhadapan dengan kekuatan negara atau masyarakat, guru ada dalam posisi lemah dan selalu menjadi korban. Situasi ini tidak dapat diatasi dengan mengangkat seluruh guru honorer menjadi pegawai negeri, seperti tuntutan beberapa kelompok guru honorer maupun mengangkat guru tidak tetap menjadi guru tetap yayasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masalah ini hanya bisa diatasi jika pemerintah dan masyarakat memberi prioritas untuk menjaga, melindungi, dan menghormati profesi guru. Secara khusus, pemerintah harus memberi jaminan finansial secara minimal kepada tiap guru agar mereka dapat hidup layak dan bermartabat sebagai guru. Jaminan seperti ini hanya bisa muncul jika ada perlindungan hukum berupa peraturan perundang-undangan yang benar-benar memihak dan berpihak kepada guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejauh ini, pemerintah hanya mampu menuntut guru untuk ikut sertifikasi, tetapi ia gagal memberi penghargaan dan perlindungan atas profesi guru (ada ketidakseimbangan kuota guru negeri dan swasta, sedangkan swasta dibatasi kesejahterannya dengan aturan alokasi jam mengajar dan status kepegawaian). Pemerintah memiliki tugas mulia dalam menyejahterakan nasib guru. Negara mampu melakukan itu jika ada keinginan politik yang kuat. Ongkos sosial dan politik pada masa depan akan lebih ringan jika pemerintah mampu memberi perlindungan dan kemartabatan profesi guru, terutama memberi jaminan ekonomi minimal agar para guru dapat hidup bermartabat, sehingga mereka dapat memberi pelayanan bermutu bagi masyarakat dan negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dukungan bagi swasta&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketidakmampuan sekolah swasta dalam membiayai para guru yang bekerja di lingkungannya juga harus menjadi keprihatinan utama pemerintah. Partisipasi masyarakat dalam mengembangkan dunia pendidikan patut didukung, tetapi pemerintah juga wajib menjamin bahwa masyarakat yang mengelola sekolah memenuhi persyaratan sesuai standar pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan. Jika banyak yayasan pendidikan tidak mampu memenuhi standar pelayanan pendidikan, yayasan seperti itu tidak layak melangsungkan pelayanan pendidikan karena akan merugikan masyarakat (menarik ongkos terlalu tinggi), tidak mampu menghargai kinerja guru, dan tidak mampu memberi layanan pendidikan yang terbaik bagi siswa karena keterbatasan sarana, fasilitas, dan mutu guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di zaman persaingan ketat seperti sekarang, kinerja menjadi satu-satunya cara untuk mengukur mutu seorang guru. Karena itu, status pegawai negeri, swasta, tetap, atau honorer tidak terlalu relevan dikaitkan gagasan tentang profesionalisme kinerja seorang guru. Di banyak tempat, status pegawai tetap malah membuat lembaga pendidikan swasta tidak mampu mengembangkan gurunya secara profesional sebab mereka telah merasa mapan. Demikian juga yang menjadi pegawai negeri, banyak yang telah merasa nyaman sehingga lalai mengembangkan dirinya. Di Papua, ada fenomena, status menjadi guru pegawai negeri banyak diincar sebab tiap bulan mendapat gaji, sementara hadir di sekolah dianggap tidak wajib.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Guru yang berkualitas selalu mengembangkan profesionalismenya secara penuh. Dia tak akan merengek-rengek meminta diangkat sebagai pegawai negeri atau guru tetap sebab pekerjaannya telah membuktikan, kinerjanya layak dihargai. Mungkin ini salah satu alternatif yang bisa dilakukan guru untuk mengembangkan dan mempertahankan idealismenya pada masa sulit. Namun, idealisme ini akan kian tumbuh jika ada kebijakan politik pendidikan yang mengayomi, melindungi, dan menghargai profesi guru. Pemerintah sudah seharusnya menggagas peraturan perundang-undangan yang melindungi profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri atau swasta, dengan memberi jaminan minimal yang diperlukan agar kesejahteraan dan martabat guru terjaga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Doni Koesoema A&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa Pascasarjana Boston College Lynch School of Education,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-3699217249310048025?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3699217249310048025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3699217249310048025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/membaca-masalah-guru-bersama-doni.html' title='Membaca masalah guru bersama Doni Koesoema'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5841812322599559472</id><published>2008-11-18T10:52:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T20:27:41.929+07:00</updated><title type='text'>Belajar denggan senang</title><content type='html'>&lt;p&gt;Mengajar bahasa Inggris sering membuat saya sedih. Barangkali saya terlalu serius dan terlalu berharap siswa saya segera pinter berbahasa Inggris. Saya merasa memiliki segala kemampuan untuk mengajar. Saya sendiri sering mengatakan kepada siswa saya bahwa sayalah keajaiban dunia nomor 15–orang yang makan nasi tetapi fasih berbahasa Inggris. Sayang, apa yang miliki ini tidak begitu mudahnya saya tumpahkan kepada siswa saya. Terlalu banyak siswa yang tampak tidak bersemangat belajar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tugas mengajar bahasa Inggris ini persis seperti seorang lone ranger. Pelajaran bahasa Inggris adalah momok yang mengerikan dan harus dijauhi. Paling tidak begitulah yang sangat membekas dalam pikiran semua orang yang berada di sekolah. Lone ranger jelas akan merasa kesepian, sebab tidak ada orang berani melangkah masuk ke dalam daerah yang dikuasainya. Lingkungan sekolah tidak selalu mendukung terciptanya suasana belajar bahasa Inggris bersama untuk semua warga sekolah. Hanya ada guru bahasa Inggris dan siswanya yang setengah frustasi.&lt;br&gt;&lt;/p&gt;Pada satu jam terakhir ini saya memulai rekor sukses pengajaran bahasa Inggris dalam sejarah keguruan saya. Saya sebenarnya tidak membawa materi apa-apa pada saat berangkat ke kelas IPA2. Tapi saya sangat percaya diri. Perasaan ini muncul setelah saya melihat graphic organizer yang biasa digunakan orang untuk menulis sebuah karangan.  Teman saya pernah menggunakan graphic organizer dalam penelitian pengajaran bahasa di sekolahnya. Ah, pakai ini saja! Saya bisa bercerita dengan alat ini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah masuk ke dalam kelas, memberikan salam dan basa-nasi sebentar, saya mulai beraksi. Saya bilang kepada para siswa, mari kita merangkai sebuah cerita.  Sesaat saya maju ke papan tulis dan memulai dengan sebuah huruf, M. “Mau cerita apa ya? Saya hanya memiliki satu huruf ini!” Saya tunggu reaksi para siswa. “Muhaimin,” seseorang berteriak. “Makan!” ada suara lain. Dan banyak yang lain. “Oke! Saya teruskan tulisan ini menjadi–Malin Kundang. Bagaimana?” Kelihatan ada respon positif. “Tetapi saya tidak mau bercerita sendiri. Saya mau kita sama-sama membangun cerita ini mulai dari awal hingga akhir. Kita sama-sama!” Mereka belum tahu maksud saya. Saya melanjutkan bagan saya dengan menambahkan sebuah gambar pulau Sumatra, memberikan titik sebagai tanda daerah Minang. Di bawah tulisan Malin Kundang juga saya tambahkan kata-kata lain seperti: old woman, a little boy, a small house dan poor… difficult. Saya berhenti. Saya menoleh kepada siswa dan meminta salah satu dari mereka untuk menambahkan kata-kata lain yang menurut mereka sangat berhubungan dengan cerita Malin Kundang seperti yang pernah mereka dengar sebelumnya. Tambahan kata-kata yang ada di papan tulisan lumayan banyak, dan saya merasa kata-kata tersebut sudah mencukupi untuk memulai ceritanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;“Anak-anak, saya mau kita menyusun cerita ini dengan saya berbahasa Indonesia dan kalian mencoba untuk berbahasa Inggris. Semua dilakukan secara lisan.” Teriakan siswa yang pertama terdengar adalah,  “Huuu… Huuu.” Saya anggap hal ini biasa saja. Tidak ada yang aneh bila siswa disuruh berbahasa Inggris seperti sekarang. Reaksi spontan ya persis seperti itu! Saya memulai dengan menunjuk satu kata di papan tulis. Tangan saya berada di kata ‘old woman’. “Pada jaman dahulu….” Saya mengisyaratkan kepada siswa untuk mulai mengatakan ungkapan bahasa Inggrisnya. Agak sulit awalnya. “… ada seorang wanita tua… yang tinggal bersama…. anak laki-lakinya yang masih kecil.” Dengan susah payah siswa akhirnya sambung dengan cara saya bercerita. “Mereka tinggal di dalam sebuah rumah kecil, di pinggiran desa. Mereka bukan orang kaya. Mereka sangat miskin, sering merasa lapar karena tidak mendapatkan makanan untuk dimakan.”&lt;br&gt;&lt;br&gt;Semakin lama para siswa saya terhanyut dengan cerita-cerita yang mereka susun dengan bahasa Inggris. Saya selalu berusaha membenarkan kalimat-kalimat yang tidak pas. Dari cara ini kelihatan mengerti dan menuruti aturan penyusan kalimat bahasa Inggris yang pernah saya ajarkan, dan kalaupun mereka lupa saya mengingatkan. Cerita yang mereka buat bersama semakin lama semakin seru, terutama ketika saya mulai tidak memberikan narasi, tetapi bentuk percakapan. Satu kalimat yang terkesan bagi mereka adalah pada saat cerita Malin Kundang kecil pulang dari pelabuhan sambil membawa uang pertama kali. Sambil berlainan ke dalam rumah, Malin Kundang berteriak, “Mak, saya pulang!” Siswa mencoba kalimat mereka berkali-kali. “Ma, I go home!” Saya sedikit memberikan tawaran lain, “Seharusnya: Ma, I am coming!” Siswa melihat gaya dan gerakan saya ketika mengatakannya. Akhirnya mereka pun berteriak, “Ma, I am coming!”&lt;br&gt;&lt;br&gt;Semua merasa senang.&lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/thumbs_up.png"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5841812322599559472?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5841812322599559472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5841812322599559472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/belajar-denggan-senang.html' title='Belajar denggan senang'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-6812636605337896366</id><published>2008-11-11T11:49:00.003+07:00</published><updated>2009-06-18T00:54:55.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi'/><title type='text'>Komunikasi dalam manajemen kurikulum</title><content type='html'>Kurikulum merupakan unsur vital dalam setiap program pendidikan. Selalu saja guru yang diharapkan untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran selama satu tahun. Hal ini merupakan kegiatan rutin bagi guru sehingga banyak yang beranggapan untuk terlalu penting untuk memperbarui kurikulum yang dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkungan sekolah yang tidak terlalu besar, komunikasi bisa berjalan mulus dari pembuat kebijakan (kepala sekolah dan bagian kurikulum)kepada guru pengajar atau sebaliknya. Komunikasi intensif di sekolah kecil bisa dijalankan mulai dari penyusunan program, pelaksanaan, kontrol dan evaluasi pelaksanaan pembelajarannya. Setiap kendala yang dihadapi guru dalam pengajaran menjadi topik utama bagi guru, bagian kurikulum dan kepala sekolah. Guru tidak hanya mendapat komando di awal yang berupa pemberian jadwal dan kemudian divonis pada akhir tahun pelajaran. Pada saat siswa berhesil guru sekedarnya dipuji. Sedang jika mereka melihat siswa tidak berhasil dalam belajar, guru dicaci. Sukses belajar pada siswa merupakan sukses guru dan sekolahnya. Komunikasi kurikulum selama proses pelaksanaan pembelajaran selalu terkait dengan problem solving. Setiap kendala dalam proses pembelajaran harus cepat ditanggapi oleh pihak kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan menjadi rumit dalam manajemen kurikulum di sekolah yang jumlah siswanya sangat besar. Sebagian dari keberhasilan dari sekolah unggul adalah solidnya kontrol terhadap pelaksanaan program kegiatan belajar mengajar selama satu tahun. Kontrol ini memang membuat bagian kurikulum sangat sibuk. Analoginya adalah: Bila di sekolah besar pihak pelaksana kurikulum tidak terlalu sibuk memegang kendali dan kontrol pengajaran di sekolah, pertanda bahwa sukses pembelajaran siswa akan tertunda. Kalau pihak pelaksana kurikulum melihat keganjilan dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung pembelajaran, harus ada pemecahan yang cerdas dan cepat sehingga sukses siswa tidak tertunda. Guru, bagian kurikulum dan kepala sekolah wajib tanggap terutama terhadap pelaksanan program pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapnya unsur sekolah bukan hanya untuk membuat jadwal dan melakasanakan ujian!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-6812636605337896366?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6812636605337896366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6812636605337896366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/komunikasi-dalam-manajemen-kurikulum.html' title='Komunikasi dalam manajemen kurikulum'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-790689741546114414</id><published>2008-11-08T09:55:00.001+07:00</published><updated>2009-06-18T01:40:52.501+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terjemahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='talenta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><title type='text'>7 cara cerdas membaca</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SQkPE6nyGCI/AAAAAAAABDA/leLO6p_YOeo/s1600-h/web_wbl123.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SQkPE6nyGCI/AAAAAAAABDA/leLO6p_YOeo/s200/web_wbl123.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262754216689145890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Banyak orang yang  mengalami kesulitan dalam mengembangkan ketrampilan membaca. Tidak jarang, pada sebagian besar orang yang tingkat pendidikannya tinggi sekalipun, persoalan ini masih saja terjadi. Cerdas membaca mengisyaratkan bahwa pembaca bisa mengambil pelajaran atau informasi penting dari bacaannya. Hasil bacaan yang berguna adalah yang segera memberi manfaat kepada pembacanya sendiri dan juga kepada orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.pickthebrain.com/blog/7-pleasurable-ways-to-improve-your-reading-ability/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Steve Kaufmann&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; menuliskan sebuah artikel dengan judul &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.pickthebrain.com/blog/7-pleasurable-ways-to-improve-your-reading-ability/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;7 Pleasurable Ways to Improve Your Reading Ability.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  Penjelasannya tentang tujuh cara cerdas membaca sebenarnya sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja. 7 cara cerdas membaca adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Membaca sesuai minat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Berbagai bahan bacaan bisa saja didapatkan, tetapi yang paling memberi manfaat kepada pembaca adalah bahan bacaan yang menyenangkan dan menarik bagi pembacanya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Membaca sesuai kemampuan dan daya nalar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Bagi orang dewasa tentu tidaklah sulit memastikan tentang kemampuan dan daya nalarnya sendiri. Dalam proses mendidik, orang dewasa perlu mempertimbangkan kemampuan anak dalam memahami bacaan menurut bahasa atau isinya. Namun, dalam upaya memacu perkembangan kemampuan membaca, tingkat kesulitan bacaan selanjutnya dinaikkan setingkat demi setingkat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Belajar membaca secara mendalam, tetap menekuni bahan yang sama dalam jangka waktu tertentu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;. Hampir sejalan dengan proses belajar berjalan. Dalam usaha untuk memahami bahan bacaan tertentu, kita tidak perlu berganti-ganti topik bahasan. Kalau perlu kita juga belajar konsisten untuk membaca buku yang ditulis oleh orang-orang tertentu agar terbiasa dengan gaya bahasa dan pilihan katanya. Pada saatnya nanti kita beralih ke topik yang lain atau pengarang yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Jika mengalami kesulitan membaca, belajarlah dengan mendengar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tahap awal dari proses belajar bisa jadi dengan mendengar dan menyimak orang lain membaca. Proses semacam ini bisa dijadikan sebagai budaya belajar bersama dimana orang yang sudah tinggi kemampuan membacanya membaca dengan keras dan yang baru pada tahap belajar menyimak. Membaca dengan suara keras pun bisa memberi manfaat bagi mereka yang memiliki ciri belajar dengan suara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menggunakan imajinasi dalam membaca. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kaufmann berkeyakinan bahwa seorang pembaca yang baik selalu hanyut dalam bacaan dan membiarkan imajinasi membantu dalam pemahaman bacaan. Dengan menikmati bacaan, kita akan menjadi lebih aman dan bisa terus belajar lebih mendalam. Nikmati saja informasi, gagasan dan pikiran yang disajikan oleh pengarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Jangan cemas kalau tidak mengerti. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tidak semua proses membaca bisa membuat pembacanya mengerti. Sebagian besar usaha membaca adalah mendatangkan rasa senang dan gembira. Secara pribadi sebagian informasi yang diberikan penulis sudah pernah kita ketahui, sesuai dengan cara kita sendiri. Perasaan senang itulah yang kita perlukan untuk terus belajar membaca.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tingkatkan kemampuan membaca dengan memperbanyak kata kunci&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Dalam proses belajar membaca, kita perlu memperkaya perbendaharaan kata dan informasi dengan berbagai cara seperti memakai flash card, catatan kecil dan lain sebagainya. Dari banyaknya informasi yang kita gali pengalaman membaca itulah kita bisa meningkat menjadi cerdas membaca.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Inilah sebagian dari apa yang bisa kita peroleh dari Steve Kaufmann. Apabila anda berkeinginan untuk menggali lebih mendalam tentang teori-teori belajar semacam ini silahkan membaca pada alamat berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;a href="http://www.pickthebrain.com/"&gt;http://www.pickthebrain.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-790689741546114414?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/790689741546114414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/790689741546114414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/7-cara-cerdas-membaca.html' title='7 cara cerdas membaca'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SQkPE6nyGCI/AAAAAAAABDA/leLO6p_YOeo/s72-c/web_wbl123.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-8336235411646312654</id><published>2008-11-08T09:53:00.001+07:00</published><updated>2009-06-18T00:55:39.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><title type='text'>Mengapa menulis</title><content type='html'>Bagi saya, berbagai gosip dengan teman-teman lain sehabis mengajar bisa jadi menambah rasa persaudaraan di antara kami semua. Kebiasaan membicarakan masalah-masalah sederhana sampai yang luar biasa hebatnya di sekolah sudah menjadi trade mark. Sayangnya saya tidak terlalu bisa mengikuti. Teman-teman akan selalu ramai kalau saya ikut bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih melakukan kegiatan lain. Saya belajar menulis di blog yang saya buat. Ada sebuah pertanyaan yang saya sampaikan kepada seorang ibu guru: "Ibu tahu tidak, mengapa saya harus menulis?" Saya tunggu jawaban itu sekitar satu menit. Tidak ada jawaban. Saya ulangi lagi pertanyaan saya: "Tahu, Bu?" Jawabannya, tidak. Kemudian saya menjelaskan kepada ibu guru yang selalu saya panggil Bu Guru Cantik itu dengan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Begini, Bu. Saya selalu menyempatkan menulis sesuatu di blog ini karena saya merasa yakin bahwa dengan menulis saya ini berlatih berpikir. Dengan selalu berlatih menggunakan pikiran, saya bisa menghindari pikun. Latihan seperti ini juga penting untuk membuktikan apakah yang kita pikirkan itu layak diperhatikan oleh orang lain atau tidak. Kalau sekarang ini, posisi ibu yang seharusnya menuliskan apa yang perlu untuk disebarkan kepada masyarakat luas.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Banyak sebenarnya yang saya harapkan dari kegiatan menulis ini. Saya sendiri merasa bahwa cita-cita saya adalah menjadi seorang penulis, bukannya menjadi guru seperti sekarang. Hanya saja nasib membawa ke jalan pengabdian dulu. Proses belajar menulis agak saya anggap serius. Saya tidak ingin lagi menyia-nyiakan waktu untuk sekedar bergosip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah posting "&lt;a href="http://www.manageyourwriting.com/importance_of_writing/"&gt;Writing to Yourself&lt;/a&gt;," yang ditulis oleh Kenneth W. Davis, dikatakan bahwa sebuah tulisan, selain untuk mengkomunikasikan pikiran dan gagasan kepada orang lain, juga berfungsi untuk berkomunikasi kepada diri sendiri. Saya mengagumi Professor Davis karena tulisannya yang sederhana tetapi sangat bermakna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-8336235411646312654?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8336235411646312654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8336235411646312654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/mengapa-menulis.html' title='Mengapa menulis'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-2564479359410627739</id><published>2008-11-07T15:15:00.005+07:00</published><updated>2009-06-18T01:39:38.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memilih pemimpin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Baik, boleh dilanjutkan</title><content type='html'>Diskusi saya dengan seorang teman seperguruan kali ini adalah tentang kepemimpinan. Tiga kriteria saja yang dianggapnya bisa membuat seorang pemimpin dianggap "baik." Saya lalu mendengarnya menyebut kriteria kepemimpinan yang baik, yaitu: berani, cerdas dan sabar. Sungguh sederhana sekali! Dalam percakapan tadi saya memberikan satu argumen, jika ketiga syarat itu semuanya lengkap, boleh sajalah kepemimpinan hanya didasari dengan tiga syarat itu. Tapi jangan dikurangi lagi. Kalau hanya sekedar berani, janganlah. Cerdas saja juga tidak cukup. Sabar tanpa memliki sifat berani dan cerdas, mungkin hanya membuat pemimpin yang pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berkeinginan untuk mementahkan pemikiran sederhana tentang kepemimpinan. Bagi saya sendiri, tiga ciri-ciri pemimpin yang baik itu sama sekali kurang lengkap. Kita memerlukan banyak kriteria lain agar pemimpin yang sedang menjalankan tugas tidak sekedar mengajak kita kepada perjalanan yang tidak jelas arahnya, atau bahkan mengecewakan. Selain berani sama menambahkan dua syarat menjadi pemimpin--komunikatif dan manusiawi. Barangkali saja kita melihat seorang pemimpin yang berani dan cerdas dalam mengambil keputusan, namun bagaimana kalau gagasannya itu tidak dikomunikasikan secara manusiawi. Tidak komunikatif berarti bawahannya tidak akan pernah tahu apa yang sedang direncanakan oleh pemimpin mereka. Sifat manusiawi diharapkan membuat pemimpin mau memperhatikan bahwa bawahan bukan budak atau robot yang selalu patuh kepada semua perintahnya. Sifat manusiawi membuat seorang pemimpin mampu merasakan apa yang sedang dirasakan oleh bawahan. Tidak bisa rasanya seorang pemimpin selalu memaksakan kehendak, meskipun di awalnya dia menganggap gagasannya baik dan cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa terobsesi dengan masalah pemimpin dan kepemimpinan. Obsesi ini membuat saya serentak menggali lebih dalam tentang apa artinya menjadi pemimpin. Apakah pemimpin bisa muncul lantaran jabatan sudah dipegang? Pertanyaan seperti ini sudah sering kali dipertanyakan. Jabatan tidak selalu identik dengan kepemimpinan. Orang boleh berkata, "Yang memimpin siapa toh? Saya atau sampeyan?" Dari sini muncul sebuah pertanyaan lain, apakah pemimpin selalu benar? Kalau seorang pemimpin menganggap dirinya yang paling benar, ini sudah tidak manusiawi lagi. Rupanya pemimpin ini sudah menyaru peranan tuhan. Kita harus berani memilah-milah peranan yang bisa kita ambil dan yang terlarang untuk kita gunakan. Jatuhnya seorang pemimpin biasanya bermula dari arogansi dan kesombongannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dan buruknya seorang pemimpin merupakan sebuah pilihan. Sering kali kondisinya membuat bawahan tidak bisa memilih siapa yang akan memimpin mereka. Sistem budaya dan sosial sering juga menjadi penentu pemilihan seorang pemimpin. Terkadang kita tidak mengharapkan seseorang menjadi pemimpin kita. Kita berusaha mereka-reka daya dan upaya untuk menghindari kenyataan agar tidak dipimpin oleh orang tersebut. Ternyata, setelah kita berusaha macam-macam, pemimpin yang datang justru kualitasnya jauh dari orang yang sebenarnya kita jauhi. Kita membenci tipe pemimpin tertentu, yang datang justru memiliki kualitas yang lebih parah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-2564479359410627739?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2564479359410627739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2564479359410627739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/baik-boleh-dilanjutkan.html' title='Baik, boleh dilanjutkan'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-1750326713504946682</id><published>2008-11-06T17:05:00.005+07:00</published><updated>2008-11-06T17:25:35.979+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konflik'/><title type='text'>3 cara sederhana mengatasi konflik</title><content type='html'>Konflik bisa terjadi dimana saja. Munculnya juga bermacam-macam sumbernya. Konflik terjadi lantaran adany ketidaksesuaian antara pandangan pribadi kita dengan orang lain yang termasuk partner di lingkungan kita. Berikut adalah tawaran tips untuk mengatasi konflik yang kita hadapi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bangunlah hubungan yang harmonis dengan dasar saling percaya.&lt;br /&gt;2. Hadapilah konflik atau masalahnya, jangan orangnya. Dalam hal ini bisa menggunakan &lt;br /&gt;   cara-cara seperti menggunakan teladan yang diterapkan orang dewasa lain. Anda juga&lt;br /&gt;   bisa mencoba menyelasaikan konflik anda dengan menggunakan role play, kemudian &lt;br /&gt;   usahakan untuk menemukan pelajaran dari role play tersebut.&lt;br /&gt;3. Hadapilah orang yang mengalami konflik dengan anda secara manusiawi, sementara &lt;br /&gt;   masalah yang dipecahkan seadil-adilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terjadinya konflik, sebenarnya kita bisa memperoleh hubungan yang semakin baik. Persoalannya adalah apakah konflik yang terjadi tersebut kita anggap sebagai ujian atau merupakan petaka. Kalau kita mengganggap sebagai ujian, maka kita wajib menyelesaikannya secara tuntas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-1750326713504946682?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1750326713504946682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1750326713504946682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/3-cara-sederhana-mengatasi-konflik.html' title='3 cara sederhana mengatasi konflik'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-7940245202513774226</id><published>2008-11-04T13:04:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:51:54.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><title type='text'>Belajar berbagi rasa</title><content type='html'>Posisi saya di lingkungan kerja sekarang ini sedang menjadi incaran orang lain. Saya disoroti sebagai orang tidak lagi dekat dengan mereka. Saya tidak lagi aktif bergaul dengan teman-teman untuk membicarakan banyak hal seperti dulu lagi. Saya dianggap tidak bisa berbagi rasa. Mereka bahkan sempat menganggap bahwa saya adalah orang yang hilang. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagian teman masih datang kepada saya untuk menyampaikan persoalan ini dan itu. Atau, kalupun saya sempat berhenti sebentar, saya juga sering dimintai pendapat tentang banyak hal yang menyangkut kondisi saat ini di sekolah. Komentar saya hanya satu, kata saya suatu saat. "No Comment!"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-7940245202513774226?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7940245202513774226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7940245202513774226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/11/belajar-berbagi-rasa.html' title='Belajar berbagi rasa'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-1721650544273304124</id><published>2008-10-23T21:02:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:27:09.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi'/><title type='text'>Komunikasi effektif di sekolah</title><content type='html'>Pembenahan manajemen sekolah tidak terlepas dari bagaimana budaya komunikasi antara warga sekolah bisa dikembangkan secara efektif. Dalam bentuk komunikasi tradisional sering terjadi dimana komunikasi hanya dilakukan dalam satu arah saja, yaitu dari atasan kepada bawahannya. Komunikasi dalam bentuk ini menunjukkan bahwa bawahan hanya berhak untuk menerima serangkaian pesan berupa petunjuk, perintah, tugas dan informasi lainnya. Hubungan komunikasi dua arah tidak mendapatkan posisi yang layak pada bentuk komunikasi tradisional seperti ini. Bahkan, alih-alih menerima usulan dari bawahan, pimpinan sering terlalu peka dan enggan untuk menerima pendapat yang tidak sejalan. Kritik sama sekali tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perubahan arus komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar organisasi sekolah, semakin rumit persoalan yang bisa ditemui. Komunikasi searah yang berkembang di budaya tradisional hanya berjalan mulus apabila besaran organisasi tidaklah terlalu signifikan. Namaun, begitu organisasi sudah menggelembung dan berbagai urusan telah membesar volumenya, pimpinan organisasi sekolah dalam hal ini kepala sekolah harus berani belajar menggunakan komunikasi dua arah. Masukan dari bawah akan sangat membantu dalam mensukseskan visi dan misi sekolah. Pimpinan masih tetap memegang kendali dalam mengatur dan mengontrol organisasi, namun berbagai proses pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, tugas kontrol serta evaluasi manajemennya dilaksanakan secara bersama-sama. Beban pimpinan dalam hal ini menjadi berkurang hampir 50% dari porsi yang ada bila masih menerapkan pola tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat digali dari pembicaraan sekarang adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Persoalan yang terkait dengan banyak orang dan sekolah secara menyeluruh perlu diungkap, dibahas dan diputuskan dalam musyawarah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Proses pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah yang sekecil apapun tidak layak hanya diselesaikan oleh perorangan, atau kelompok yang tidak benar-benar mewakili keseluruhan warga sekolah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rapat atau musyawarah tidak lagi bersifat informatif, tanpa melibatkan peranan anggota dalam proses identifikasi masalah dan penyelesaiannya. Keputusan sepihak hanya akan menggagalkan misi dan program kerja sekolah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-1721650544273304124?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1721650544273304124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1721650544273304124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/10/komunikasi-effektif-di-sekolah_23.html' title='Komunikasi effektif di sekolah'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-7380953562947956579</id><published>2008-10-23T20:30:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:28:12.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konflik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='english'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi'/><title type='text'>Improving communication in school management</title><content type='html'>Communication is one of important ingredients for effective management. An effective school is surely performing effective communication for every single program it has in the management.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effective communication among constituents at school will result in effective performance for the whole year of education. Headmaster, teachers, staffs and students are all connected as a single organisation through flows of effective communication vertically and horisontally. Headmaster as the highest rank at school may delegate certain responsibilities to teachers and staffs without any difficulties if the leader is able to communicate effective messages to them. Meanwhile, if the communiation processes can not be understood by teachers and staffs, for sure, they will not perform any effective task. Failures to understand messages indicate some defects in the processes of communication, and in time will endanger the success of the school programs.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-7380953562947956579?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7380953562947956579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7380953562947956579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/10/improving-communication-in-school.html' title='Improving communication in school management'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-2558801288618079775</id><published>2008-10-23T08:06:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:53:25.083+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><title type='text'>Masuk gerbang</title><content type='html'>Kalau ada yang membaca tulisan ini jangan dianggap saya protes. Ini hanya perasaan saya yang sengaja dipublikasikan. Barangkali Allah berkenan membaca suara hati saya dan meridloi apa-apa yang saya perbuat. Perasaan saya nyata adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap pagi saya melewati pintu gerbang madrasah. Tidak ada masalah. Karena saya juga termasuk guru yang mengajar di sini. Mulai hari Senin saya rasa, muncul suatu kejadian luar biasa. Pasalnya, setelah mengantarkan Roihan ke sekolah dan langsung menuju ke madrasah, hampir semua orang mulai guru, karyawan dan terutama siswa harus menuntun sepeda dan sepeda motor mereka. Tulisan yang digantung di atas pintu gerbang menyatakan: "Silahkan turun dari sepeda. Mesin dimatikan. Lebih sopan anda tidak menaiki kendaraan anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa gerangan?!! Seperti kembali pada jaman Jepang dulu. Cerita kakek, semua orang yang melewati pintu gerbang kota yang dijaga oleh tentara Jepang harus turun dari sepeda onta dan  menghormat ke arah penjaga. Kalau tidak melakukan seperti yang dinginkan oleh penjaga, jangan harap bisa selamat dari gebukan mereka. Wah, madrasah ini sudah dijajah oleh Jepang!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-2558801288618079775?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2558801288618079775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2558801288618079775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/10/masuk-gerbang.html' title='Masuk gerbang'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-6305128160372647420</id><published>2008-10-20T09:02:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T00:54:23.125+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Guru harus belajar SEO</title><content type='html'>Ngeblog sekian lama dan belum punya kartu kredit, saya yang guru bahasa Inggris beralih misi untuk belajar tentang SEO. Katanya, SEO ini sangat diperlukan untuk meningkatkan traffic pada blog yang kita buat. &lt;a href="http://blogging-in-business.blogspot.com/2008/07/seo-benefit-of-blogging.html"&gt;Adam&lt;/a&gt; dalam http://blogging-in-business.blogspot.com/2008/07/seo-benefit-of-blogging.html menulis sekedarnya tentang masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi dengan para blogger di sekolah saya termasuk yang senior. Sebagian ada yang membanggakan blog yang dia punya lantaran trafficnya bagus dan Paypal yang dia punya sudah memasukkan recehan 1.2 $. Dia bangga. Saya melihat memang topiknya yang menawan. Group band dan download lagu memang sedang jadi idola. Tapi dia tida mengerti istilah SEO dan segala macam. Semuanya dia coba tanpa pakai ilmu SEO. &lt;a href="http://catridge.blogspot.com/"&gt;Bayangkan kalau dia SEO!&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-6305128160372647420?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6305128160372647420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6305128160372647420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/10/guru-harus-belajar-seo.html' title='Guru harus belajar SEO'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-8335544433098117716</id><published>2008-10-17T16:31:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T20:27:41.984+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disiplin'/><title type='text'>Disiplin Diri dan Lingkungan</title><content type='html'>Bagaimana ceritanya? Apa kabar dengan yang baru? Dan serentetan pertanyaan sempat mampir ke telinga saya. Untuk sementara saya menutup mata dan telinga saya! Saya tidak ingin berkomentar banyak. Saya ingin memikirkan sesuatu yang lebih bermakna untuk masa depan saya pribadi saja!&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah saya egois? Mengapa engkau tidak mau memikirkan masa depan lingkungan tempat sempat besar dan membesarkan diri? Jawabannya jelas: YA saya memang egois. Saya memang tidak berpikir terlalu jauh terhadap lingkungan hidup yang tidak bisa saya pengaruhi. Saya tidak ingin menonjolkan diri dengan menggagas ide-ide yang tidak mungkin bisa diterima oleh orang-orang yang mendengar saya. Telinga mereka untuk mendengarkan suara hati mereka sendiri! Saya juga tidak mau membuang-buang energi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-8335544433098117716?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8335544433098117716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8335544433098117716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/10/disiplin-diri-dan-lingkungan.html' title='Disiplin Diri dan Lingkungan'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-7929586997008146801</id><published>2008-10-12T15:59:00.003+07:00</published><updated>2008-10-12T16:10:34.110+07:00</updated><title type='text'>Perlukah menghapus blog</title><content type='html'>Dalam pengalaman blogging selama ini, hanya Blog ini yang saya hargai nilainya. Mengapa? Saya sudah menumpahkan segala pikiran dan waktu saya untuk membangunnya sedikit demi sedikit. Blog ini merupakan olah pikir saya mengenai dunia pendidikan yang saya geluti. Saya melihat banyaknya celah-celah di dunia pendidikan yang sangat tidak mendidik.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Telinga saya adalah telinga guru. Mata saya juga mata seorang guru. Saya berusaha memotret kehidupan sekolah yang kebetulan tidak menyenangkan. Dengan meneropong dari sudut pandang lain, saya berharap ada usaha murni untuk perbaikan. Saya merasa yakin bahwa pendidikan adalah menu utama bagi semua orang tanpa pengecualian. Siswa, guru dan orang lain selain keduanya patut mengenyam pendidikan berulang-ulang. Pendidikan tidak pernah berhenti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sayangnya Blog yang saya cintai merupakan tempat parkir orang tidak senang dengan saya secara pribadi. Ia kemudian melambaikan FLAG dan akhirnya blog ini semacam mengandung konten yang tidak menyenangkan. Apalah mau dikata? Tapi saya masih sayang kalau harus menghapus blog ini dari dunia maya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-7929586997008146801?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7929586997008146801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7929586997008146801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/10/perlukah-menghapus-blog.html' title='Perlukah menghapus blog'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-7250605784179501795</id><published>2008-09-27T00:44:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T01:38:34.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengenal kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Is that you?</title><content type='html'>Dengan pandang curiga, kau tanyakan ini dan itu. Matamu tak pernah nampak senang dan menyenangkan ketika aku sedang bicara. Telingamu sudah penuh cerita tentang aku, dari sisi yang lain. Aku yakin kau tak berbicara kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah buka mata batinmu, kalau ada dusta di dalam ucapanku. Cobalah belajar terbuka untuk menerima dengan terbuka atau mentah-mentah menolak kehadiranku. Lebih baik terbuka. Biarkan aku tahu siapa kamu dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak tak boleh ada penyesalan. Sekali ini saja kita menyaru. Batinku berkata bahwa engkau bukan yang aku mau. Muncul juga kamu di hidupku. Memperpanjang daftar tunggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-7250605784179501795?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7250605784179501795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7250605784179501795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/is-that-you.html' title='Is that you?'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5023608862503598211</id><published>2008-09-25T15:16:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T20:27:41.998+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terjemahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='effective school'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='action research'/><title type='text'>Sekolah Efektif</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman'; "&gt;&lt;div style="border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 3px; padding-right: 3px; padding-bottom: 3px; padding-left: 3px; width: auto; font: normal normal normal 100%/normal Georgia, serif; text-align: left; "&gt;Visi tentang sekolah efektif banyak dikembangkan menjadi riset guna meningkatkan kinerja sekolah sebagai satu lembaga pendidikan formal. Dari &lt;a href="http://effectiveschools.education.ucsb.edu/correlates.html"&gt;California Center for Effective School&lt;/a&gt; kita bisa mengambil suatu kerangka kerja untuk mereformasi lembaga pendidikan berdasarkan pada tujuh prinsip atau pilar yang diperoleh dari hasil berbagai penelitian empirik dan studi kasus tentang keberhasilan sekolah. Kesemuanya menggambarkan budaya dan iklim belajar sekolah sebagai wadah siswa-siswa yang sukses belajar. Pilar budaya dan iklim sekolah ini secara terus menerus mengarahkan sekolah, administrator dan para guru guna mengembangkan jalan-jalan yang bisa meningkatkan budaya sekolah dan kebehasilan belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Misi sekolah yang jelas dan terarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah sekolah yang efektif, terdapat suatu misi yang diartikulasikan secara jelas sehingga para staf pengajar sama-sama memiliki pemahaman dan komitmen terhadap tujuan instruksional, memiliki prioritas pengajaran, assesmen yang prosedural dan akuntabilitias kerja.&lt;br /&gt;•Staf sekolah mengetahui dan memahami misi utama sekolah&lt;br /&gt;•Pembelajaran siswa menjadi kriteria utama dalam menetapkan kebijakan&lt;br /&gt;•Standart pembelajaran nasional digabungkan dan disesuaikan dengan kurikulum lokal&lt;br /&gt;•Program pengajaran berfokus kepada grade yang spesifik atau harapan tingkat pembelajaran siswa. Indikator kemampuan diidentifkasi dan disepakati oleh staf pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Harapan sukses yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, terdapat suatu iklim harapan dimana staf pengajar yakin dan mampu menunjukkan bahwa semua siswa bisa meraih penguasaan ketrampilan belajar yang utama dan bahwa para staf pengajar memiliki kemampuan untuk membantu siswa agar berhasil dalam belajar.&lt;br /&gt;•Guru yakin bahwa semua siswa mampu belajar dan berharap mereka bisa sukses belajar, hal ini terlihat dari sikap dan perilaku mereka yang secara jelas dikomunikasikan kepada siswa&lt;br /&gt;•Perhatian diberikan secara adil kepada semua siswa baik yang tingkat keberhasilannya tinggi maupun yang rendah&lt;br /&gt;•Siswa mengetahui harapan-harapan yang ditujukan kepada mereka, dan guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk meraih sukses&lt;br /&gt;•Guru memberikan banyak kesempatan bagi siswa dalam hal tanggung jawab dan kepemimpinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Kepemimpinan Instruksional &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, kepala sekolah merupakan pemimpin instruksional yang rela berbagi kepemimpinan staf pengajar. Kepala sekolah merupakan pemimpin dari para pemimpin.&lt;br /&gt;•Kepala sekolah, bersama staf pengajar lainnya, menekankan bahwa tujuan sekolah yang utama adalah belajar&lt;br /&gt;•Kepala sekolah dan para guru bersikap aktif dan terlibat dalam seluruh aspek di sekolah. Mereka miliki sikap memberi, ulet, mendukung dan berdedikasi kepada misi sekolah.&lt;br /&gt;•Kepala sekolah dan para guru mengungkapkan harapan-harapan yang tinggi untuk penampilan kemampuan guru, staf dan administrator&lt;br /&gt;•Kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling menguatkan program-program instruksional dan memonitor kemajuan belajar siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Frekuensi monitoring kemajuan belajar siswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, sering dilakukan pengujian kemajuan akademik siswa. Berbagai macam prosedur pengukuran kemajuan belajar siswa digunakan dan hasil-hasil assessmen digunakan untuk meningkatkan kemampuan individu siswa dan untuk meningkatkan program instruksional&lt;br /&gt;•Data hasil belajar bisa mendorong perubahan dalam program-program pengajaran dan procedural sekolah&lt;br /&gt;•Data test, distribusi nilai dan pola pendaftaran dianalisa menurut gender dan status sosio-ekonomi untuk mendeteksi adanya ketidaksesuaian data dan untuk memastikan bahwa seluruh siswa benar-benar belajar&lt;br /&gt;•Uraian tentang kemampuan belajar siswa sama-sama diketahui oleh para staf pengajar dan dilaporkan ke masyarakat. Nilai untuk tingkat wilayah dan sekolah dianalisa oleh para staff untuk menjadi acuan tentang keberhasilan program dan menetapkan target di program-program baru demi kemajuan sekolah&lt;br /&gt;•Norm-referenced tests dan authentic assessments dirancang dan digunakan oleh guru untuk menguji tingkat kemampuan siswa dan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Kesempatan belajar dan waktu menjalankan tugas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, guru mengalokasikan waktu yang cukup untuk proses belajar mengajar di kelas dan ketrampilan-ketrampilan khusus&lt;br /&gt;Waktu yang dialokasikan untuk pengajaran dalam bidang studi yang termasuk content area dikhususkan. Jumlah waktu yang disediakan untuk pengajaran content area tertentu diselaraskan dengan proses pembelajaran&lt;br /&gt;•Guru berusaha mengurangi penyimpangan pembelajaran dan berfokus kepada tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;•Secara jelas guru mengkomunikasikan tentang tujuan dan maksud setiap pelajaran&lt;br /&gt;•Tingkat keberhasilan siswa, guna mencapai standart belajar, adalah 80-85% untuk memastikan pembelajaran yang produktif. Hal ini dijalankan guru dengan memonitor kualitas rencana pelajaran, merevisi, mengajarkan kembali dan memberikan tugas yang lain kepada siswa untuk tujuan pembelajaran yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Lingkungan yang aman dan teratur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, ada suasana yang teratur dan sehat yang bebas dari ancaman fisik. Lingkungan sekolah kondusi untuk proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;• Staff sekolah yakin, dimana sikap dna perilaku mereka menunjukkan, konsistensi sesama staff merupakan kunci lingkungan yang positif&lt;br /&gt;• Staff sekolah menerima tanggung jawa yang menetapkan mereka tetap menjalani tugas sekolah dimanapun dan kapanpun mereka berada di sekolah&lt;br /&gt;• Ada iklim positif bagi siswa. Perilaku yang baik, penerimaan, usaha dan tanda penghargaan diberikan&lt;br /&gt;• Penampilan fisik di dalam gedung terawatt dan perhatian administrative terhadap penampilan sekolah menjadi kunci yang penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Hubungan sekolah dan rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, orangtua memahami dan mendukung misi sekolah dan diberikan kesempatan untuk memainkan peranan penting dalam membantu sekolah dalam mencapai keberhasilan misi tersebut&lt;br /&gt;• Orangtua memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan-tujuan sekolah dan stadart kurikulum melalui jalur komunikasi yang efektif&lt;br /&gt;• Orangtua diberi informasi tentang tata-cara membantu putra-putri mereka di rumah&lt;br /&gt;• Orangtua menerima informasi yang lengkap tentang kemajuan belajar anak-anak mereka, termasuk hasil-hasil ujian nasional dan apakah anaknya tersebut berhasil, dengan nilai di bawah atau di atas standart&lt;br /&gt;• Berbagai cara digunakan untuk berkomunikasi dengan orangtua termasuk dengan buku pegangan, surat pemberitahuan, catatan rumah, panggilan telepon, konferensi guru dan orangtua, kunjungan rumah, paket belajar di rumah serta pertemuan di sekolah dan di kelas.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5023608862503598211?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5023608862503598211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5023608862503598211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/sekolah-efektif.html' title='Sekolah Efektif'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-2893260264174901465</id><published>2008-09-25T15:02:00.003+07:00</published><updated>2009-06-18T01:36:13.513+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blogging'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Setelah sekian lamanya ngeblog</title><content type='html'>Ngeblog masih menjadi idola dalam urutan kegiatan saya sehari-hari. Saya terus belajar sedikit demi sedikit tentang seluk beluk ngeblog yang bisa membawa nikmat. Begitu banyak tawaran yang sudah saya pelajari tentang blogging for money dan bagaimana tipe-tipe blog yang mendapat traffic lumaya banyak. Saya yakin belum bisa melangkah jauh sampai saat ini. Kunci utamanya adalah tuntas mendaftarkan account adsense. Saya belum bisa karena ya tidak memiliki kartu kredit. Guru yang ini baru bisa mendengar cerita tentang nikmatnya uang penghasilan dari ngeblog. Sudah kemampuan menulisnya meningkat, dapat uang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak akan banyak bisa menemukan seorang guru yang ngeblog di lingkungan sekolah. Ketika didapati seorang guru menjadi blogger, banyak orang akan menyoroti dan membicarakan. Mereka yang tidak mengenal dunia internet dan segala macam kelebihannya tentu akan berpikiran miring dan mencemooh guru yang kegiatannya hanya di depan komputer. Apakah guru itu tidak mau bersosialisasi dengan guru yang lain? Pastilah guru yang suka ngeblog itu sudah termasuk orang yang tidak peduli dengan lingkungannya. Begitulah suara sumbang yang saya sendiri dengar. Tetapi, bagi saya ngeblog merupakan saran bersosialisasi dan belajar berkomunikasi dengan baik. Tidak semua orang bisa mengungkapkan pikirannya dengan tulisan yang rancak dan enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeblog di sekolah memang sebuah resiko. Bisa jadi kepala sekolah yang tidak mengenal tulis-menulis atau internet akan menyangka guru tersebut menuliskan yang macam-macam tentang gaya kepemimpinannya. Guru yang ngeblog tidak terlalu banyak mendapatkan tempat yang layak. Jadi guru yang cukup mengajar saja! Buat apa lagi harus menulis di blog? Begitulah bisikan mereka yang tidak senang. Dan, emangnya gua pikirin!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-2893260264174901465?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2893260264174901465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/2893260264174901465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/setelah-sekian-lamanya.html' title='Setelah sekian lamanya ngeblog'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5553136245879792020</id><published>2008-09-12T15:15:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T20:27:42.012+07:00</updated><title type='text'>Camouflage As A Defense Strategy</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;p&gt;Khususnya binatang melata yang hinggap di pohon kamuflase bisa juga dilakukan oleh manusia. Kamuflase dijadikan strategi untuk bertahan hidup dan selamat dari bahaya yang bisa muncul kapan saja. Survival strategy yang seperti ini sudah sering dijalankan oleh para dalam masa peperangan agar tidak dikenali oleh musuh dengan mudah. Bila pengguna strategi ini tidak menerapkannya, kecenderungan untuk cepat dikenali dan terlihat oleh musuh dari kejauhan akan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat anda akan melihat juga bahwa sebenarnya strategi ini juga diterapkan oleh manusia bukan hanya pada saat peperangan dan sewaktu berhadapan dengan musuh. Di lingkungan yang aman pun strategi ini dijalankan untuk mencari celah-celah dari sekian banyak kesempatan ketika seseorang ingin meraih sukses dengan segala macam cara. Saya sendiri baru saja melihat strategi ini dijalankan dalam kancah pencarian nikmat di lingkungan kerja. Para ABS akan senang menerapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berusaha menerapkan strategi pencarian nikmat—dengan label kamuflase atau mbunglon—di lingkungan kerja mana saja kita berada, sayangnya banyak orang yang akan sinis kepada kita. Berarti strategi ini memang hanya pantas dilakukan oleh binatang saja. Sementara itu, kelompok manusia tertentu saja yang berani memakai. Entah bagaimana pendapat anda semua?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;First release,&lt;/span&gt;    &lt;span class="post-author"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="post-timestamp"&gt;&lt;a class="timestamp-link" href="http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/camouflage-as-defense-strategy.html" title="permanent link"&gt;Minggu, Agustus 17, 2008&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5553136245879792020?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5553136245879792020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5553136245879792020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/camouflage-as-defense-strategy.html' title='Camouflage As A Defense Strategy'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-8833442864127240219</id><published>2008-09-12T15:13:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T20:27:42.022+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><title type='text'>Jual Beli Jabatan</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt; &lt;p&gt;Ketika orang bilang bahwa jabatan bisa dibeli, aku tidak terlalu kaget. Di kita mana yang tidak mungkin? Bahkan kalau ada orang kaya yang ingin memiliki sebagai pulau di Indonesia, pasti bisa diatur. Mau jadi presiden, kalau uang banyak kita bisa membelinya. Semakin rendah tuntutan kita, tentu saja akan semakin mudah tercapai. Kita memang memiliki budaya yang unik dan mungkin jarang bisa ditemui di negara lain. Kita memiliki bangsa yang terpaksa menerima segala keadaan yang ditentukan oleh penggede negara dengan segala kerendahan hati dan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kita memiliki jabatan setelah kita mengeluarkan sekian banyak uang, dukungan dari anak buah juga bisa kita beli--dengan cara halus atau dengan cara kasar. Anak buah bisa saja kita jadikan sebagai budak belian yang bisa kita perlakukan dengan cara apa saja. Cara halus perlu sedikit modal kepintaran kita mengatur posisi dan manajemen yang berada di bawah kekuasaan kita. Dengan cara sedikit mau mempelajari harapan dan keinginan komunitas yang berada di bawah kekuasaan kita dan sedikit mau mengambil hati dan simpati anak buah kita akan mampu meraih sukses tanpa bersusah-payah mengeluarkan dana sepeser pun. Penting kita ketahui bahwa anak buah itu manusia, perlakukan saja sebagai layaknya manusia. Cukup. Dengan cara kasar artinya kita tidak bisa menjadi lebih pintar, meski dengan belajar 1000 tahun lamanya. Kalau itu yang kita rasakan, tak usah muluk-muluk untuk turun ke bawah. Kita hanya perlu tahu apa yang sebenarnya kita mau tentang manajemen kita dan tetapkan bagaimana anak buah kita harus melayani dan mengabdi kepada kita. Pastikan bahwa tidak ada suara lain selain dari yang kita suarakan. Berbeda sedikit, sikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jual beli jabatan cukup dianggap wajar. Anda mau mendapatkan jabatan yang empuk? Coba tahan sebentar keinginan anda. Tunggu waktunya ketika uang dan hubungan anda cukup untuk mendapatkan kesempatan membeli sebuah jabatan yang anda inginkan.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;span class="post-author"&gt; Posted by Blogging Teacher &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; at &lt;a class="timestamp-link" href="http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/jual-beli-jabatan.html" title="permanent link"&gt;Kamis, Agustus 21, 2008&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-8833442864127240219?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8833442864127240219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/8833442864127240219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/jual-beli-jabatan.html' title='Jual Beli Jabatan'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5001863137092624867</id><published>2008-09-12T15:05:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T20:27:42.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran diri'/><title type='text'>Berbenah diri di bulan Ramadhan</title><content type='html'>Judul 'Belajar berbenah diri di bulan Ramadhan' ini saya ambil sekenanya saja. Saya tidak berniat menjadi penceramah atau yang semacamnya. Misi utama tulisan ini adalah untuk memberikan nasehat kepada diri sendiri yang masih awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan sebagai bulan yang penuh barokah merupakan saat yang tepat bagi kita ummat Islam untuk berbenah baik secara individu maupun sebagai kelompok sosial. Dalam program pencerahan diri, kali ini saya berniat untuk menyampaikan sedikit yang saya pelajari tentang bagaimana seharusnya kita sebagai seorang muslim berproses dalam rangka memperbaiki kualitas pribadi kita. Mengapa kita merasa perlu berbenah? Perhatikan yang diungkapkan oleh William Shakespeare: “A fool thinks himself to be wise, but a wise man knows himself to be a fool.” Sebagai seorang muslim yang bertaqwa kita harus yakin adanya banyak kekurangan dalam diri kita sehingga kita memang harus terus berbenah dan meningkatkan pribadi kita menuju seorang muslim yang kaffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kewajiban kita dalam keimanan kepada Allah SWT untuk menjalankan puasa di bulan yang suci ini. “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk menjalankan puasa seperti telah diwajibkan pula kepada ummat sebelum kamu sehingga kamu sekalian bertaqwa.” (Al-Baqarah, 183). Dari puncak hakekat taqwa di bulan Ramadhan, yang pertama kali perlu evaluasi di dalam diri kita adalah sejauhmana ketaqwaan yang ada di dalam diri kita. Kita wajib mengenali sendiri posisi kita sekarang ini karena titik balik peningkatan yang ingin kita capai dalam menjalankan puasa sebulan penuh. Kita perlu menetapkan target pembelajaran pribadi kita yang mungkin saja sudah compang-camping akibat gerusan sang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun memiliki kesempurnaan bentuk, manusia memiliki banyak kelemahan seperti yang telah diuraikan dalam Al-Qur’an, yakni termasuk sifatnya yang tergesa-gesa, penuh dengan keluh kesah, tamak dan bakhil, keras kepala dan sering lupa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Sebesar apapun iman dan taqwanya, ternyata kita tidak bisa menghindari kenyataan ini. Manusia memiliki banyak kelemahan. Dan banyaknya kelemahan manusia akan diperkuat dengan nafsu-nafsu jahat yang menjadi pengaruh dominan dalam kehidupan kita yang mulai menjauh dari tuntunan Al-Qur’an dan Hadith. Sekali lagi, di bulan Ramadhan inilah kita mulai belajar menata kembali pribadi kita sebagai muslim. Dengan bekal kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya, kita berproses dari manusia yang lemah menuju satu posisi yang sejajar dengan kalangan orang-orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelajaran yang mengenalkan posisi lemah kita sebagai manusia, kita berbalik untuk setapak demi setapak berbenah diri. Adalah kewajiban kita bersama untuk saling berbagi. Juga tugas kita bersama untuk saling amar makruf, nahi mungkar baik untuk diri sendiri, kepada kerabat dekat, keluarga muslim serta orang yang belum memperoleh hidayah iman dan Islam. Kita manfaat sekilas waktu singkat kita untuk saling mengingatkan dan nasihat-menasihati dalam ketaqwaan kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan Ramadhan oleh orang awam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5001863137092624867?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5001863137092624867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5001863137092624867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/berbenah-diri-di-bulan-ramadhan_12.html' title='Berbenah diri di bulan Ramadhan'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-1032772291194037623</id><published>2008-09-11T09:56:00.002+07:00</published><updated>2009-06-18T01:35:28.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Guru bisa merasa jenuh</title><content type='html'>Seorang guru tetap manusia biasa. Berbagai perasaan yang biasa dirasakan kebanyakan orang tentu saja masih bisa dirasakan oleh guru, yang banyak orang bilang--digugu lan ditiru. Sering kita mendengar tentang harapan-harapan masyarakat tentang bagaimana seharusnya seorang guru menjalani profesinya. Harapan yang kita dengar sering juga bernada menuntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang guru gagal memenuhi harapan masyarakat, sebagai imbalannya akan terdengar komentar yang bernada mencemooh dan mencela. Dalam suasana semacam ini sepertinya seorang guru dilarang berbuat salah dan wajib memenuhi kriteria yang telah ditetapkan secara formal atau informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembicaraan sekarang kita menyoroti satu sisi kehidupan seorang guru yang monoton dan terpaksa menjalankan kegiatannya secara rutin dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Variasi kegiatan guru sama sekali tidak besar. Selama menjalani kegiatannya sebagai guru, serangkaian program yang jelas terbayang adalah persiapan mengajar, bertemu dengan siswa di kelas, menjalankan program evaluasi, merancang kegiatan remidi dan kemudian balik ke awal program setiap kali ditemui pergantian semster dan tahun ajaran baru. Jelas sangat membosankan. Siapa pun gurunya, yang berpengalaman dan yang kurang berpengalaman, merasa perlu untuk mencicipi program penyegaran--bentuknya bisa berupa pelatihan, study tour, penelitian dan sarasehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiatif dari pemerintah untuk melakukan penyegaran pada guru memang sudah terpola dan direncanakan. Dalam prakteknya, tidak semua guru bisa menikmati acara-acara yang menyegarkan profesionalisme guru. Banyak sekali guru yang tidak terjaring dalam acara yang diprogramkan oleh pemerintah--dalam hal ini terkait dengan kepentingan kantor dinas pendidikan dan kebudayaan. Kalaupun sempat dikirimkan undangan untuk mengikuti program pelatihan ke sekolah, tetap tidak semua guru bisa merasakan program. Kondisi masing-masing sekolah bervariasi terhadap acara penyegaran profesionalisme guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum terbayang dalam benak kita, ternyata, ada sekolah yang memiliki tenaga pendidikan, yang tidak selalu seorang guru, pasti hadir dalam pelatihan apa saja. Orang tersebut bisa jadi hadir di pelatihan guru bahasa Indonesia, guru bahasa Inggris, guru Matematika dan lain sebagainya. Orang ini adalah tenaga khusus untuk selalu hadir dalam berbagai macam pelatihan. Sementara itu, guru yang memang berkepentingan tidak mungkin lolos seleksi untuk bisa menghadiri pelatihan. Penyaringan ini terjadi di tingkat kebijakan sekolah. Kalau dalam acara-acara formal yang semestinya disediakan untuk guru, kita tidak mampu menikmatinya, apa yang bisa dilakukan guru? Inilah poin pokok dalam pembicaraan kita. Bagaimana tindakan guru untuk mencegah kejenuhan yang dialami menjadi semakin akut dan menghambat kinerjanya dalam mengajar?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-1032772291194037623?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1032772291194037623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/1032772291194037623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/guru-bisa-merasa-jenuh.html' title='Guru bisa merasa jenuh'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-339400871233962301</id><published>2008-09-08T17:03:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T20:27:42.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teacher&apos;s eyes and ears'/><title type='text'>As I always get a content warning</title><content type='html'>It's all up to you. This is a free world with a free mind. I don't care. As long as I can see the truth I will try to share what I know. See the massive information from a teacher's perspectives&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-339400871233962301?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/339400871233962301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/339400871233962301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/as-i-always-get-content-warning.html' title='As I always get a content warning'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5409854017737630672</id><published>2008-09-04T14:42:00.002+07:00</published><updated>2008-09-04T15:21:08.522+07:00</updated><title type='text'>Menghargai karya orang</title><content type='html'>Pendidikan termasuk medan perjuangan untuk mempertajam cipta karsa dan karya bernilai baik secara pribadi maupun kommunal. Dalam sistem pendidikan di negeri Indonesia yang penuh sesak dengan kritik--dibarengi sumpah serapah, kita melihat kenyataan bahwa para pendidik kita suka dan cenderung 'berselingkuh' dalam menjalankan misi pendidikan. Kita lebih sering melihat bahwa ternyata para pendidik lebih sering berkutat dengan formalitas pendidikan. Apalagi setelah label pe-en-es dipegang, perhatian sebagian besar para pendidik sekedar 'datang, mengajar, pulang.' Hakikat pendidikan sendiri jauh dari sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling vital dalam proses pendidikan adalah bagaimana seorang anak didik atau pembelajar mulai bisa merasakan pentingnya ilmu, melihat pentingnya usaha untuk mendapat perolehan sampai benar-benar berilmu, terus belajar untuk mempertahankan keilmuannya, dan belajar juga untuk melestarikan pentingnya ilmu dan hakekat kebenarannya. Agaknya cukup panjang perjalanan proses pendidikan dalam hidup kita, sehingga muncul istilah 'long life education'. Dalam pendidikan, bahkan pemikiran seseorang pun menjadi sebuah karya yang patut dihargai. Pengakuan terhadap suatu hasil pemikiran orang lain menjadi bagian karya kita sendiri inilah yang kurang mendapatkan perhatian dalam dunia pendidikan kita. Pada puncaknya pendidikan harus dibudayakan dan terus dikembangkan mata pelajaran 'apresiasi pemikiran'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah, guru sebagai pendidik terus mengajarkan kepada anak didik untuk bisa berkarya dan memberikan apresiasi yang layak terhadap karya sendiri maupun karya orang lain. Secara pribadi saya tidak melihat proses pengajaran apresiasi dijalankan secara efektif dan membuat siswa pintar berapresiasi. Gambaran umum tentang hasil pendidikan di negeri kita sangat nampak dengan cara-cara demonstrasi dan tak mau mendengar aspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5409854017737630672?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://qizinklaziva.wordpress.com/2008/05/20/opiniku-dicopy-paste-surabaya-post-tanpa-izin/#comment-975' title='Menghargai karya orang'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5409854017737630672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5409854017737630672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/09/menghargai-karya-orang.html' title='Menghargai karya orang'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-4780182927465368420</id><published>2008-08-18T12:04:00.002+07:00</published><updated>2008-08-25T07:56:19.636+07:00</updated><title type='text'>7 Pilar Sekolah Efektif</title><content type='html'>Visi tentang sekolah efektif banyak dikembangkan menjadi riset guna meningkatkan kinerja sekolah sebagai satu lembaga pendidikan formal. Dari &lt;a href="http://effectiveschools.education.ucsb.edu/correlates.html"&gt;California Center for Effective School&lt;/a&gt; kita bisa mengambil suatu kerangka kerja untuk mereformasi lembaga pendidikan berdasarkan pada tujuh prinsip atau pilar yang diperoleh dari hasil berbagai penelitian empirik dan studi kasus tentang keberhasilan sekolah. Kesemuanya menggambarkan budaya dan iklim belajar sekolah sebagai wadah siswa-siswa yang sukses belajar. Pilar budaya dan iklim sekolah ini secara terus menerus mengarahkan sekolah, administrator dan para guru guna mengembangkan jalan-jalan yang bisa meningkatkan budaya sekolah dan kebehasilan belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Misi sekolah yang jelas dan terarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah sekolah yang efektif, terdapat suatu misi yang diartikulasikan secara jelas sehingga para staf pengajar sama-sama memiliki pemahaman dan komitmen terhadap tujuan instruksional, memiliki prioritas pengajaran, assesmen yang prosedural dan akuntabilitias kerja.&lt;br /&gt;•Staf sekolah mengetahui dan memahami misi utama sekolah&lt;br /&gt;•Pembelajaran siswa menjadi kriteria utama dalam menetapkan kebijakan&lt;br /&gt;•Standart pembelajaran nasional digabungkan dan disesuaikan dengan kurikulum lokal&lt;br /&gt;•Program pengajaran berfokus kepada grade yang spesifik atau harapan tingkat pembelajaran siswa. Indikator kemampuan diidentifkasi dan disepakati oleh staf pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harapan sukses yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, terdapat suatu iklim harapan dimana staf pengajar yakin dan mampu menunjukkan bahwa semua siswa bisa meraih penguasaan ketrampilan belajar yang utama dan bahwa para staf pengajar memiliki kemampuan untuk membantu siswa agar berhasil dalam belajar.&lt;br /&gt;•Guru yakin bahwa semua siswa mampu belajar dan berharap mereka bisa sukses belajar, hal ini terlihat dari sikap dan perilaku mereka yang secara jelas dikomunikasikan kepada siswa&lt;br /&gt;•Perhatian diberikan secara adil kepada semua siswa baik yang tingkat keberhasilannya tinggi maupun yang rendah&lt;br /&gt;•Siswa mengetahui harapan-harapan yang ditujukan kepada mereka, dan guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk meraih sukses&lt;br /&gt;•Guru memberikan banyak kesempatan bagi siswa dalam hal tanggung jawab dan kepemimpinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepemimpinan Instruksional &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, kepala sekolah merupakan pemimpin instruksional yang rela berbagi kepemimpinan staf pengajar. Kepala sekolah merupakan pemimpin dari para pemimpin.&lt;br /&gt;•Kepala sekolah, bersama staf pengajar lainnya, menekankan bahwa tujuan  sekolah yang utama adalah belajar&lt;br /&gt;•Kepala sekolah dan para guru bersikap aktif dan terlibat dalam seluruh aspek di sekolah. Mereka miliki sikap memberi, ulet, mendukung dan berdedikasi kepada misi sekolah.&lt;br /&gt;•Kepala sekolah dan para guru mengungkapkan harapan-harapan yang tinggi untuk penampilan kemampuan guru, staf dan administrator&lt;br /&gt;•Kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling menguatkan program-program instruksional dan memonitor kemajuan belajar siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Frekuensi monitoring kemajuan belajar siswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, sering dilakukan pengujian kemajuan akademik siswa. Berbagai macam prosedur pengukuran kemajuan belajar siswa digunakan dan hasil-hasil assessmen digunakan untuk meningkatkan kemampuan individu siswa dan untuk meningkatkan program instruksional&lt;br /&gt;•Data hasil belajar bisa mendorong perubahan dalam program-program pengajaran dan procedural sekolah&lt;br /&gt;•Data test, distribusi nilai dan pola pendaftaran dianalisa menurut gender dan status sosio-ekonomi untuk mendeteksi adanya ketidaksesuaian data dan untuk memastikan bahwa seluruh siswa benar-benar belajar&lt;br /&gt;•Uraian tentang kemampuan belajar siswa sama-sama diketahui oleh para staf pengajar dan dilaporkan ke masyarakat. Nilai untuk tingkat wilayah dan sekolah dianalisa oleh para staff untuk menjadi acuan tentang keberhasilan program dan menetapkan target di program-program baru demi kemajuan sekolah&lt;br /&gt;•Norm-referenced tests dan authentic assessments dirancang dan digunakan oleh guru untuk menguji tingkat kemampuan siswa dan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesempatan belajar dan waktu menjalankan tugas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, guru mengalokasikan waktu yang cukup untuk proses belajar mengajar di kelas dan ketrampilan-ketrampilan khusus&lt;br /&gt;Waktu yang dialokasikan untuk pengajaran dalam bidang studi yang termasuk content area dikhususkan. Jumlah waktu yang disediakan untuk pengajaran content area tertentu diselaraskan dengan proses pembelajaran&lt;br /&gt;•Guru berusaha mengurangi penyimpangan pembelajaran dan berfokus kepada tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;•Secara jelas guru mengkomunikasikan tentang tujuan dan maksud setiap pelajaran&lt;br /&gt;•Tingkat keberhasilan siswa, guna mencapai standart belajar, adalah 80-85% untuk memastikan pembelajaran yang produktif. Hal ini dijalankan guru dengan memonitor kualitas rencana pelajaran, merevisi, mengajarkan kembali dan memberikan tugas yang lain kepada siswa untuk tujuan pembelajaran yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lingkungan yang aman dan teratur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, ada suasana yang teratur dan sehat yang bebas dari ancaman fisik. Lingkungan sekolah kondusi untuk proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;• Staff sekolah yakin, dimana sikap dna perilaku mereka menunjukkan, konsistensi sesama staff merupakan kunci lingkungan yang positif&lt;br /&gt;• Staff sekolah menerima tanggung jawa yang menetapkan mereka tetap menjalani tugas sekolah dimanapun dan kapanpun mereka berada di sekolah&lt;br /&gt;• Ada iklim positif bagi siswa. Perilaku yang baik, penerimaan, usaha dan tanda penghargaan diberikan&lt;br /&gt;• Penampilan fisik di dalam gedung terawatt dan perhatian administrative terhadap penampilan sekolah menjadi kunci yang penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hubungan sekolah dan rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sekolah yang efektif, orangtua memahami dan mendukung misi sekolah dan diberikan kesempatan  untuk memainkan peranan penting dalam membantu sekolah dalam mencapai keberhasilan misi tersebut&lt;br /&gt;• Orangtua memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan-tujuan sekolah dan stadart kurikulum melalui jalur komunikasi yang efektif&lt;br /&gt;• Orangtua diberi informasi tentang tata-cara membantu putra-putri mereka di rumah&lt;br /&gt;• Orangtua menerima informasi yang lengkap tentang kemajuan belajar anak-anak mereka, termasuk hasil-hasil ujian nasional dan apakah anaknya tersebut berhasil, dengan nilai di bawah atau di atas standart&lt;br /&gt;• Berbagai cara digunakan untuk berkomunikasi dengan orangtua termasuk dengan buku pegangan, surat pemberitahuan, catatan rumah, panggilan telepon, konferensi guru dan orangtua, kunjungan rumah, paket belajar di rumah serta pertemuan di sekolah dan di kelas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-4780182927465368420?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://effectiveschools.education.ucsb.edu/correlates.html' title='7 Pilar Sekolah Efektif'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4780182927465368420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4780182927465368420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/7-pilar-sekolah-efektif.html' title='7 Pilar Sekolah Efektif'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-4181757704503256078</id><published>2008-08-17T12:48:00.001+07:00</published><updated>2008-08-17T13:04:09.153+07:00</updated><title type='text'>Camouflage As A Defense Strategy</title><content type='html'>Khususnya binatang melata yang hinggap di pohon kamuflase bisa juga dilakukan oleh manusia. Kamuflase dijadikan strategi untuk bertahan hidup dan selamat dari bahaya yang bisa muncul kapan saja. Survival strategy yang seperti ini sudah sering dijalankan oleh para dalam masa peperangan agar tidak dikenali oleh musuh dengan mudah. Bila pengguna strategi ini tidak menerapkannya, kecenderungan untuk cepat dikenali dan terlihat oleh musuh dari kejauhan akan lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat anda akan melihat juga bahwa sebenarnya strategi ini juga diterapkan oleh manusia bukan hanya pada saat peperangan dan sewaktu berhadapan dengan musuh. Di lingkungan yang aman pun strategi ini dijalankan untuk mencari celah-celah dari sekian banyak kesempatan ketika seseorang ingin meraih sukses dengan segala macam cara. Saya sendiri baru saja melihat strategi ini dijalankan dalam kancah pencarian nikmat di lingkungan kerja. Para ABS akan senang menerapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berusaha menerapkan strategi pencarian nikmat—dengan label kamuflase atau mbunglon—di lingkungan kerja mana saja kita berada, sayangnya banyak orang yang akan sinis kepada kita. Berarti strategi ini memang hanya pantas dilakukan oleh binatang saja. Sementara itu, kelompok manusia tertentu saja yang berani memakai. Entah bagaimana pendapat anda semua?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-4181757704503256078?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4181757704503256078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4181757704503256078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/camouflage-as-defense-strategy.html' title='Camouflage As A Defense Strategy'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-3855269452656596566</id><published>2008-08-16T13:24:00.002+07:00</published><updated>2008-08-16T13:52:20.410+07:00</updated><title type='text'>Managing The People</title><content type='html'>Cukup banyak pemimpin yang sudah berkiprah dalam posisinya masing-masing. Dalam ajaran Islam dikatakan justru setiap orang wajib mengenali posisinya sebagai pemimpin dan akan diminai pertanggung-jawaban atas semua yang dijalankannya selama menjadi pimimpin.Tanggung-jawabnya bisa berupa tanggung-jawab pribadi, keluarga, kelompok sosial, bangsa, negara dan agama. Semuanya bermuara pada satu puncak dari pertanggung-jawaban, yakni tanggung-jawab makhluk kepada sanga pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kita hanya mengurusi masalah-masalah pribadi, arah tanggung-jawab kita bisa kita tanggung sendiri dan semoga Tuhan merestui. Begitu urusan kita sudah melibatkan orang lain, bisa kita yang memimpin atau kitalah yang dipimpin. Pemimpin dianggap lebih pantas diduduki oleh orang yang superior dan memiliki visi dan misi jelas yang memang patut diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kebetulan kita berposisi untuk memimpin banyak orang, yang perlu disadari terlebih dahulu adalah fakta bahwa masing-masing orang memiliki karakteristik yang berlainan satu dan yang lainnya. Kita yang memimpin berbeda dengan bawahan. Inilah  persoalan yang biasa terjadi dan tidak perlu dirisaukan. Tugas pemimpin adalah membangun visi bersama untuk mempersatukan elemen-elemen kelompok sosial yang beraneka ragam tersebut. Tidaklah sepatutnya bila begitu kita menjadi seorang pemimpin, lantas kita berusaha untuk menganggap semua orang sama dan ingin diperlakukan sama-rata. Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menghargai apa yang menjadi ciri khas seseorang dan kemudian mengambil manfaat dari kelebihan yang dimiliki orang-orang yang dipimpinnya. Kekurang seseorang bukannya lantas menjadi titik tolak untuk kita berusaha menyeragamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanekaragaman individu yang kemudian disambung-rasa ke dalam pembentukan visi dan misi bersama akan membangun kekokohan kelompok sosial. Peranan pemimpin dalam hal menempatkan posisi masing-masing orang pada tempatnya yang layak akan membuat suatu nuansa saling pengertian di antara sesama. Persoalan biasanya akan muncul dengan kondisi yang tidak mengenakkan bila ternyata pemimpin tidak mampu menempatkan orang untuk bisa bertanggung-jawab sesuai dengan kemampuan dan kepribadiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memimpin adalah kegiatan nyata dalam kelompok sosial untuk menghargai orang lain apa adanya. Bukanlah tugas pemimpin untuk menjustifikasi baik buruknya seseorang lantaran tidak bisa seragam dalam berkepribadian. Tugas pemimpin adalah lebih kepada sukses menjalankan visi dan misi kelompok sosial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-3855269452656596566?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3855269452656596566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3855269452656596566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/managing-people.html' title='Managing The People'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-3667288677477339912</id><published>2008-08-13T09:50:00.002+07:00</published><updated>2008-08-13T10:05:05.551+07:00</updated><title type='text'>Post Power Syndorme - Headmaster Succession</title><content type='html'>A story with different perspectives, from different sides, is okay for me. People are free to express their thought and feeling to others so that others may get informed. Now is the time for me to tell you a story in my school. I had started some times ago that there would be a succession of the top leader in my school. I wrote it in my blog. To tell you the truth, the story made a bad fate for me as the headmaster read it, then he reported me to the chief of Kandepag in my region. I am a blacklisted teacher because of my own headmaster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The information about the succession of the hadmaster in my school was wind-blown, became a rumor, since 2 years ago. Teachers discussed whenever they saw each other, to gossip and to gossip. I was common.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-3667288677477339912?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3667288677477339912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3667288677477339912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/post-power-syndorme-headmaster.html' title='Post Power Syndorme - Headmaster Succession'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-6006832380070039599</id><published>2008-08-11T19:28:00.005+07:00</published><updated>2009-06-18T00:31:00.947+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teacher&apos;s eyes and ears'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='winning team'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='english'/><title type='text'>Team Teaching</title><content type='html'>CHAPTER I&lt;br /&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Background of the Study:&lt;br /&gt;In EFL contexts, students will likely get more difficulties in studying English as a result of unfavorable learning environments. Failures in developing communicative competence of English are obvious in many levels of education. Despite all the efforts made by government, Education Department of Indonesia, schools, and teachers, problems dealing with English Education programs continue may not be minimized yet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Among so many, the term ‘team teaching’ is widely discussed by educators. It has been informed as resulting in professional development in the part of teachers involved. In the other part, students will take some advantages for teachers’ creativity to seek for appropriate strategies in teaching English in the class. What we understand from the term might be in line with David Cranmer (1999), as it is “a great deal to be learnt from planning classes jointly with a colleague - an increased awareness of different priorities, different means of achieving the same end: through different activity types, different approaches to the same activity type and different activity progressions”. By developing a team teaching, teachers are trying to improve professionally, to share teaching experiences, and else to cooperate in whatever they do together in the classroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realizing problems in teaching English to the students of MAN 1 Bojonegoro, I had made an oral proposal—or say a discussion, to and with the curriculum chief of the school. Both of us were aware the importance of making teamwork for the English teachers, especially to provide more benefits for the students of having more teachers that will teach and instruct them in one semester. This was meant to be a new initiative for English teachers to share each other in lesson planning, teaching, and evaluating. The focus was on conversation lessons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the initiative, I was interested in making an action research with six other English teachers in the school. Some of the teachers got the point of how good it would be if the team succeeds in making a difference in English programs. After a few discussions the curriculum chief agreed to schedule all seven teachers to teach English at four science classes (K11) in the same period. The seven teachers were divided into four with a composition as 2-2-2-1. It means that three classes had two teachers and one class had only one teacher. In spite of my suggestion that there would a change in every two-week, the composition persisted for the whole semester. This happened a semester ago, year 2007/2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Statement of the problems:&lt;br /&gt;With the change in the teaching schedule and how the ‘team-teaching’ was made to initiate an improvement of English teaching programs in the school, I had made research questions as follows:&lt;br /&gt;1. Is the English team teaching proposed effective in making a pass through for the improvement of students’ speaking skill?&lt;br /&gt;2. If it is effective, with the evidence that students’ speaking skill improved, how was the effectiveness resulted?&lt;br /&gt;3. On the contrary, if it is proved to be ineffective, what are the pitfalls?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Aims and Objectives:&lt;br /&gt;The research is aimed at making a thorough investigation of how a team teaching influences the effectiveness of classroom management in English programs. As this is a school-based decision to plan and to work with the team teaching, I wish to investigate the effectiveness of the policy.&lt;br /&gt;Two levels of objectives of the research are as follows:&lt;br /&gt;For the school:&lt;br /&gt;The research will provide a new perspective for the English teaching program in the school. As this is an action research, the findings in the research can be used as an evaluation for the school policy, especially for the curricular programs. This is also beneficial for the program of professional development which is supposed to be among the responsibilities of the department to take.&lt;br /&gt;For the English teachers:&lt;br /&gt;In order not to make mistakes and pitfalls in English teaching programs, an action research might be effective answer. This is an avoidance of gossiping through all the teaching problems. The research will lend eyes and ears for teachers to be more careful and cautious in planning the English programs at school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Limitation of the action research&lt;br /&gt;The focus of the research will work for the on-going processes of English teaching program at MAN 1 Bojonegoro including the policy making of the team teaching, supports of the school, responses of the teachers, the plans of the teaching, teaching and learning activities and classroom management. In short words, the research will limit on “what happened in the team teaching?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Definition of key term&lt;br /&gt;Team teaching: There are many types of team teaching dealing with teacher development. Team teaching might be defined as “a group of teachers, working together, plan, conduct, and evaluate the learning activities for the same group of students” (Centre for the Enhancement of Learning and Teaching, Hongkong)&lt;br /&gt;Action Research:  Action research may vary in accord with the cases dealt with, like business managers will do action research to improve the performance of their companies, while teachers of course do action research to improve their teaching and learning programs for the benefits of their students. It may be condycted individually or in group. To define the term action research we may refer to what has been discussed in http://en.wikipedia.org/wiki/Action_research. It is suggested that “Action research is a reflective process of progressive problem solving led by individuals working with others in teams or as part of a "community of practice" to improve the way they address issues and solve problems. Action research can also be undertaken by larger organizations or institutions, assisted or guided by professional researchers, with the aim of improving their strategies, practices, and knowledge of the environments within which they practice.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CHAPTER II&lt;br /&gt;REVIEW OF LITERATURE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. EFL Teaching and Learning&lt;br /&gt;The policy of Indonesian government, that means the ministrial of education and culture affair, to set English as the basic subject to learn in almost all level of formal school can be regarded as a positive benchmark. Starting from elementary school, now, to junior high and senior high schools, students will English as the compulsory subject in the curriculum.&lt;br /&gt;However, problems dealing with of English in EFL setting are all the same. For both teachers and students do not use the language to learn in every day life. This implies a real problem to educational aspects of English, where teachers as well as students will surely lack of exposure to the language (Khoironi, 2000). Failures in studying a foreign language in EFL setting are not argueable for many. Schools with modern facilities or with particular strategies like direct use of English in many other subjects may claim that their English program is successful in making students develop their linguistics skills better than other students from usual schools. The better support and engagement for teaching and learning processes may have better results of English education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Improvement of teaching and learning theories has helped language teachers to make changes in classroom management, lesson planning, materials preparation, media use, teaching strategies, and evaluation. Teacher professional development will be in line with the length of time and experiences in teaching. Nevertheless, there is not any automatic upgrading in teacher professional development. This means that seniority will not always indicate higher professionalism of an old-crack teacher as compared the younger ones. English teachers in EFL setting should develop networks and links to teachers’ group so that they can learn each other and get advantages from the group resources. This strategy is certainly excellent and effective for teachers who want to develop professionally.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professional English teachers are not only those who are fluent in English, but more likely to be those teachers who are creative and effective in helping students to be more interested and motivated in studying English. With all its limitations, EFL setting may challenge professional English teachers to succeed in teaching. Successful teachers help students to achieve their best goals in studying English.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Team Teaching&lt;br /&gt;A group of teachers, with two members or more, willing to work together since to settle an instructional program, plan the lessons, prepare materials, teach in the same class, make the evaluation dan review overall teaching activities is called as team-teaching.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The trends in developing quality teaching result in the new term. Murni (2008) cites out her observation at schools in Japan where goverment has prepared particular budget for teachers to develop team teaching so that novice teachers learn from the seniors.  Fresh graduates get benefits in joining a team teaching as there will be forums of discussion related to problems in the class and teaching techniques. The more they are involved in the team, the more aware they will be with problems in the class and how to solve them. Meanwhile, the trends of team-teaching conducted in Indonesia are not supported by the government yet.  Schools with team-teaching in their policy, tend to follow the trends and teachers are not encouraged by the government. Among the reasons is to fulfil the 24-hours teaching requirement per week. It is a must for teachers to teach as much as 24-hours each week as it is needed in the cerfication program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Think first things in  team teaching&lt;br /&gt;Authority basis indicates strongly which framework should the team make before the classroom is started, whilst teaching, and problem solving. The other three important things we should make a triangulation of plan-act-evaluate. Teachers who commit in teaching may not just grasp anything possible to have. Good teacher with good planning and teaching will result in good learning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Planning means that teachers must check first the possibilities in the school. First, among so many reasons is the teachers’ intention to do in teamwork. Why this is important? Because teachers will deal with students and their future in learning.  If the team fails, for example, students’ learning will not improve. Teachers’ work will end up with failures and regrets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Planning includes also preparation of learning resources to be used in the class. In the preparation teachers as one team must decide which strategy to be use, how to manage the class, and how much time to share for the team and for individual works. Each teacher should understand clearly which works is the priority of the team, and when do each individual work all alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problems will always exist in teaming the teachers, especially the newly created team. For those who are common with solving problems in organization, they will see problems are easy to solve. The most important is to commit to the mission of the team. That is why, team teaching need specific time for teacher members either to share problems in the class or plan something for a particular lesson. Team teaching request a tight time scheduling for discussions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teachers in team teaching should know that it is not a magical formula for teacher development. As for David Cranmer it is “a great deal to be learnt from planning classes jointly with a colleague - an increased awareness of different priorities, different means of achieving the same end: through different activity types, different approaches to the same activity type and different activity progressions.” Three points Cranmer has stated in his articles are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Who has the control in the control over the class?&lt;br /&gt;2. Is it training or sharing?&lt;br /&gt;3. Who will be responsible in planning and making decisions for the changes in the class?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many things to consider before making team teaching for any lesson. EFL teachers need to work and discuss the cases in the new teaching strategy in the school. They need all supports, especially from the headmaster and the curriculum coordinator, just to realize. If possible, with so many people before the plan to changes in any school programs. The following is the list is the parts where teachers need to consider:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materials, books, supplies?&lt;br /&gt;How can the team set aside several hours of joint planning per week?&lt;br /&gt;Which content should each of us teach? What content should be divided?&lt;br /&gt;What content should be taught jointly?&lt;br /&gt;How will the team we keep records? One or two grade books?&lt;br /&gt;Who grades which papers? What grading system?&lt;br /&gt;Lesson plan book?&lt;br /&gt;Personal neatness preference?&lt;br /&gt;Work outside of school hours? System/organization?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Types of team teaching&lt;br /&gt;Sharon A. Maroney has discussed briefly the five types of teaching. She is sure about the importance of making team teaching as parts of teachers’ development programs. Along with the types of team teaching she also suggests tips and  partiqular requirements if team teaching is supposed to make success at school. http://www.wiu.edu/users/mfsam1/TeamTchg.html&lt;br /&gt;Five types of team teaching are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Traditional type, in which both teachers actively share the instruction of content and skills to all students. A frequent application of this approach is when one teacher presents the new information to the class while the other teacher takes notes or completes the math problem on the blackboard or constructs a semantic map on the overhead projector as the students listen and observe. In Traditional Team Teaching both teachers accept equal responsibility for the education of all students and are actively involved throughout the class period.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Complimentary or Supportive Instruction type, in which it occurs when one teacher assumes the responsibility for teaching the content to the students while the other teacher provides follow-up instructional activities on related topics or study skills. In this approach one teacher introduces the chapter content to the class and gives the reading assignment. The second teacher then instructs the students to use the SQ3R reading strategy as they complete their reading assignment. Another example of Complimentary or Supplementary team teaching is when one teacher assumes the responsibility for curriculum instruction while the second teacher designs and implements a self-monitoring strategy, such as the Time Game, to increase student attention to task&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Parallel instruction type, n which the class is divided into two groups and each teacher provides instruction on the same content or skills to a smaller group of students. This type can work well for activities such as solving math problems, completing research projects, or creative writing activities as it enables teachers to work more closely with students. A variation of Parallel Instruction, which might be used weekly, is when both teachers individually review student notebooks or progress on individual science projects. In this variation the class is not divided but both teachers are performing the same tasks in a parallel fashion.&lt;br /&gt;4. Differentiated split class team teaching type, where the class is divided into two groups according to a specified learning need. Each group is provided with instruction to meet that specified need. This type is frequently applied when the class is divided in a higher-lower split and one teacher provides an enrichment activity to the higher functioning students while the second teacher provides reteaching of the newly taught content or skill to those students who require additional instruction. Using the Differentiated Split Class Team Teaching approach in various subject areas will required different groups of students as many students have strengths in some areas while not in others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Monitoring teacher, that is when one teacher delivers instruction and models the steps of a lab experiment, while the other teacher moves around the room to observe and assist individual students as they work. During a lecture, the lecturing teacher might be using a strategy in which he/she stops frequently during the lecture to ask students to quickly answer a question on their individual Response Cards. The Monitoring Teacher can then determine whether or not students have responded correctly and can provide immediate feedback to the lecturing teacher. Often teachers may choose to use more than one type of team teaching in the same class period, as in this example. During the first 20 minutes of the class, one teacher presents a history lecture while the other teacher completes a time line on the blackboard (Traditional Team Teaching). Then the students are divided in two groups. One group is given instruction on writing a composition related to and expanding on the time line, while the other group is instructed on making an outline of time line information (Differentiated Split Class).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is also important to what Sharon advices in team teaching. The basic prerequisites for successful team teaching emphasize the personal qualities needed for team teachers and the attitudes needed for success. Successful team teachers are those who are united, not divided, and have a true partnership in the classroom. These teachers maintain the focus on the students. They have an agreed upon purpose for team teaching, agreed upon class rules and procedures, and agreed upon expectations for students and their teaching partner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Successful Team Teachers are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Willing and Want To Try Team Teaching&lt;br /&gt;Positive Thinkers&lt;br /&gt;Respectful&lt;br /&gt;Honest&lt;br /&gt;Trusting and Trustworthy&lt;br /&gt;Open to Another's Point of View&lt;br /&gt;Able to Communicate&lt;br /&gt;Flexible&lt;br /&gt;Resourceful&lt;br /&gt;"I'll try anything once!" People&lt;br /&gt;Individuals who Don't Take Things Personally&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-6006832380070039599?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://man1bojonegoro.com' title='Team Teaching'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6006832380070039599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/6006832380070039599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/team-teaching.html' title='Team Teaching'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5514294487339231375</id><published>2008-08-06T16:21:00.002+07:00</published><updated>2008-08-06T16:37:03.387+07:00</updated><title type='text'>Harus percaya siapa?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SJlt7rs8SYI/AAAAAAAAAw4/wK3x3oL2oqg/s1600-h/serigala+dan+korbannya.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231333314278476162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SJlt7rs8SYI/AAAAAAAAAw4/wK3x3oL2oqg/s200/serigala+dan+korbannya.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sering kali kita salah menilai orang. Pada saat kita dalam kondisi yang normal, justru kita menilai orang seperti ketika kita melihat bayangan sebuah benda melalui sebuah prisma. Pandangan kita terbalik, tetapi kita sendiri tidak merasakan. Pandangan yang dihasilkan ketika merasa wajar-wajar saja, tidak menghasilkan pandangan yang benar. Pandangan kepada seseorang bisa jadi memiliki logika terbalik. Kita sering kali melihat orang dengan pandangan salah terus karena tampaknya orang tersebut banyak mengkritik kita. Sementara itu kita mungkin melihat satu orang lain yang selalu kita anggap benar terus lantaran yang keluar dari mulutnya terus- menerus berupa pujian dan pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan saya kali ini saya ingin mengingatkan, perlunya kita memiliki mata batin batin yang bersih dan tidak memiliki pamrih. Pandangan yang tulus akan membuat kita selamat dari pujian-pujian yang nantinya justru menenggelamkan jati diri kita. Sikap berhati-hati kepada orang yang selalu tampak bersikap manis kepada kita cukuplah perlu. Dunia ini penuh dengan orang yang hanya manis di muka. Sikap manis inilah yang perlu diwaspadai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5514294487339231375?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5514294487339231375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5514294487339231375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/08/harus-percaya-siapa.html' title='Harus percaya siapa?'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SJlt7rs8SYI/AAAAAAAAAw4/wK3x3oL2oqg/s72-c/serigala+dan+korbannya.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-3909513338357979707</id><published>2008-07-04T11:35:00.002+07:00</published><updated>2008-07-11T19:29:08.118+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Lagi-lagi Guru! [JANGAN DIKOMENTARI!]</title><content type='html'>Jadilah guru, nanti bisa merasakan. Ada susah dan senangnya. Pengalaman membuktikan ketika aku ditawari kakakku untuk mengajar di SMP tempat ia mengajar. Aku tanya pada kakakku, berapa gaji untuk untuk guru honorer? Waktu itu tahun 1994, di Surabaya, ia jawab, Rp. 1000,- per jam. Spontan aku menjawab, tidak ahh! Setengah menganggur dan mengerjakan terjemahan saja aku bisa makan, minum dan rokok untuk sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaji guru honorer kurang lebih tidak berkembang lantaran defisit rupiah yang besar dari tahun itu ke yang sekarang. Guru honorer pada tahun ini paling-paling dibayar Rp. 10.000,- pe jam untuk kota kecil seperti tempatku mengajar. Bayangkan kalau seorang guru mengajar 15 jam dalam satu minggunya. Berapa uang yang ia dapat? Hitungan orang umum akan mengatakan 15 jam x Rp. 10.000,- x 4 minggu akan berjumlah Rp. 600.000,- per bulan. Salah! Hitungan seperti itu tidak berlaku di sekolah. Dalam sebulan guru hanya berhak mendapatkan gaji dari 15 jam seminggu itu. Sedang 3 minggu yang lain ikut saja. Jadi guru yang honorer dan mengajar 15 jam seminggu, di akhir bulan akan mendapat 'upah' sebanyak Rp. 150.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecukupan gaji guru honorer untuk menghidupi keluarganya tidak perlu ditanyakan. Kalau melihat upah tukang batu saja, gaji guru honorer bukan apa-apanya. Tukang batu yang upah hariannya Rp. 30.000,- dan ia bisa bekerja 25 hari sebulan, maka ia akan membawa pulang uang untuk keluarganya sebanyak Rp. 750.000,- gaji guru honorer belum ada separuhnya! Mungkin akan ada perubahan sedikit bila guru mendapatkan jatah menjadi guru kontrak yang mendapatkan subsidi dari pemerintah sebesar Rp. 500.000,- sebulan. Namun tidak semua guru bisa beruntung mendapatkan kesempatan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang sudah diangkat menjadi PNS lain lagi ceritanya. Guru PNS adalah korban potong-memotong gaji oleh oknum-oknum dan lainnya. Kalau ada rapelan, terutama, guru harus siap menerimanya. Kalau tidak merelakan, mungkin disebut tidak loyal atau rapelan gaji tidak segera diurus. Ini biasa terjadi. Mau bukti? Jadi guru dulu, baru nanti anda bisa merasakan sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-3909513338357979707?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3909513338357979707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3909513338357979707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/07/lagi-lagi-guru-jangan-dikomentari.html' title='Lagi-lagi Guru! [JANGAN DIKOMENTARI!]'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5826032585302492316</id><published>2008-06-10T12:30:00.011+07:00</published><updated>2009-06-18T01:42:19.474+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leadership'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Belajar  mendengar aspirasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SHquP7jo4tI/AAAAAAAAAsA/h4L1N_JRZNI/s1600-h/ear.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SHquP7jo4tI/AAAAAAAAAsA/h4L1N_JRZNI/s200/ear.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222678306597954258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sering aku teringat atau sengaja mengingatkan diriku sendiri tentang uraian seorang ulama di media tv, beberapa tahun yang lalu. Dengan penjelasannya yang berbahasa Inggris pun, aku cukup mahfum. Entah menyitir dari mana, ia berkata: "Sebagai muslim, dan ketika kita bangun di pagi hari, selalu saja ingatkan diri kita sendiri untuk memantapkan niat menjadi 'murid', artinya kita wajib belajar." Nasehat ini sangat berguna bagiku. Aku percaya adanya tiga portal dalam hidup seorang muslim--belajar, memimpin dan mengajar. Ketiga portal ini berlaku setiap hari, tanpa memperdulikan apa posisi kita sebenarnya di masyarakat. Ketiganya harus kita jalani secara bergiliran di sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya semua ini? Pertama, seorang murid adalah seorang pejuang yang sedang berjihad di jalan Allah untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar ia tidak tersesat dan menyimpang. Berperanan sebagai murid, seorang muslim harus mencari ke seluruh penjuru dunia dimana adanya ilmu pengetahuan yang bermanfaat, untuk dirinya sendiri dan untuk dibagikan dengan sesama. Mengapa harus mencari ilmu yang bermanfaat menjadi rahasia Allah, sebab begitu banyak orang yang digolongkan sebagai cendekia ternyata kepintarannya tak memiliki manfaat baik untuk dirinya sendiri, apalagi untuk kemaslahatan orang banyak. Orang yang memiliki ilmu yang tak bermanfaat hanya percaya dengan 'kebenaran' ilmunya saja, dan orang lain dianggapnya tidak berilmu. Seorang muslim tahu persis kemana harus mencari ilmu pengetahuan yang bermanfaat itu. Ia bisa membaca secara mandiri, mendekatkan diri dengan ulama, dan bahkan ia pun percaya bahwa ilmu yang bermanfaat bisa jadi muncul dari orang biasa, yang oleh orang kebanyakan dipandang sebelah mata. Ungkapan dari sahabat Ali bin Abi Thalib, "Jangan lihat kepada siapa yang bicara, tetapi lihatlah apa yang dikatakan." Di dalam Al-Qur'an, dalam konteksnya untuk pembekalan diri, kita selalu diingatkan untuk menjalankan tadhabur dan tafakur. Perbekalan muslim yang selalu belajar dan terus belajar bisa bermanfaat pada saatnya berperanan menjadi seorang pemimpin. Program pembekalan diri seorang muslim selama belajar dikatakan termasuk 'learning to be' atau belajar menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan kedua, muslim menjalankan peranan sebagai pemimpin. Sangat dipercayai oleh kita ummat Islam, bahwa seorang pemimpin harus berlaku adil dan bijaksana dalam memutuskan setiap persoalan. Pemimpin yang baik dan bisa menjalankan tugasnya dengan sempurna tidak boleh bersikap, berbuat dan memutuskan setiap persoalan semaunya. Tahapan awal, yakni ketika masih menjadi seorang murid, juga berlaku bagi seorang pemimpin yang mengedepankan kepentingan bersama. Ia wajib bertanya, bermusyawarah dan bermufakat dengan para ahli dan bawahannya. Proses pencarian ilmu pengetahuan yang dijalankan seorang murid, bila dijalani juga oleh seorang pemimpin, akan menjadi nilai plus dan 'power' dalam derajat kepemimpinannya. Bila seorang pemimpin sudah melupakan proses menjadi murid yang baik, melupakan aspirasi bawahan, menyingkirkan peranan tadhabur dan tafakur, maka bisa dipastikan bahwa segala bentuk keputasan dan kepemimpinannya adalah 'bencana' bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Perlu kita belajar bagaimana seorang Abu Bakar ra. menyambut amanah dari umat Islam setalah ditinggalkan rasulullah Muhammad saw., "Apabila aku benar dalam memimpin kalian semua, maka ikuti dan patuhilah. Namun, apabila aku bersalah dan tidak benar dalam memberikan putusan dan memimpin ummat, ingatkanlah." Dari sini bisa dipahami bahwa seorang pemimpin tidaklah selalu benar. Dalam pandangan Islam tidak dibenarkan adanya ungkapan bahwa "titah raja adalah perintah tuhan." Seorang pemimpin adalah manusia biasa yang harus terus belajar dan berguru kepada alim ulama, atau dengan istilah populer, 'ahlinya'. Ungkapan sederhana yang terkait dengan pembekalan dirinya bisa disebut sebagai 'learning to do' atau belajar melakukan. Namun, kedua prosesnya yang pertama dan kedua membutuhkan peranan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan yang ketiga, peranan sebagai guru menduduki posisi puncak seorang muslim. Pada posisi seorang guru yang selalu berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan, muncul kriteria yang perlu diterapkan dan dipenuhi sehingga bukan ilmu yang sesat dan justru menyesatkan yang kita dapatkan. Ulama besar imam Al-Ghozali membagi kedudukan manusia yang dikaitkan dengan ilmu menjadi empat: a)Orang yang tahu bahwa ia memiliki ilmu pengetahuan dan mampu menyampaikannya kepada orang lain sehingga banyak orang yang bisa mendapatkan manfaat ilmunya, maka ia adalah guru sejati. b)Orang yang tidak tahu atau tidak menyadari bahwa dirinya berilmu pengetahuan dan kurang cakap dalam usaha memberikan penjelasan, kajian dan nasehat, bisa dikatakan pintar tetapi belum bisa menjadi guru. Orang semacam ini masih bisa berguna untuk sewaktu-waktu menjalankan peranan pemimpin yang tugasnya sebagai pelaksana. Orang ini hanya membutuhkan sedikit tambahan 'power' untuk mengangkatnya menuju posisi guru. c). Orang yang ketiga adalah orang yang tidak berilmu dan tidak berhikmah, tetapi berlagak sok tahu dan pintar memberikan kajian-kajian sebagai layaknya seorang guru. Orang ini akan selalu tampil ke depan banyak orang dengan berbagai macam argumen yang sama sekali tidak masuk akal. Selama orang ini tak mau berubah dan tak berkeinginan untuk menimba pengetahuan dari sumber-sumber lain, maka ia sendiri tersesat dan orang yang tertipu dengan bujuk rayunya ikut pula tersesat. Inilah tipe orang yang sesat dan menyesatkan! Pemimpin dan murid yang cerdas disarankan menjauhi orang-orang tipe ketiga yang sudah banyak menyebar di kalangan masyarakat. Orang tipe ketiga ini juga dikenal memiliki 1001 tipu muslihat untuk mengelabuhi banyak orang. Ia sendiri tidak berhak mendapatkan peranan baik sebagai murid, pemimpin apalagi guru. d) Posisi terakhir adalah orang posisinya cukup lemah sebab ia tidak berpengetahuan luas, dan ia sendiri pun cukup menyadarinya. Orang ini tidak berilmu dan sadar kekurangan ilmunya, namun ia masih mau mendengarkan nasehat guru. Ia berposisi sebagai murid yang ingin belajar dan perlu mendapatkan pengajaran agar tidak sesat hidupnya. Dalam posisi yang sekarang ini, guru wajib mendekatinya dan berbagi ilmu pengetahuan sehingga terangkatlah derajatnya kepada posisi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah kita mencoba untuk mengerucutkan pembahasan inti tentang perlunya niat baik seorang muslim yang sedang memimpin. Tiga portal--murid, pemimpin, dan guru-- berlaku kepada semua orang dalam menjalani peranan hidupnya masing-masing. Mampu mendengar aspirasi adalah sikap seorang pemimpin sejati yang tidak sombong, tidak selalu benar sendiri, dan tidak gegabah dalam memutuskan persoalan menyangkut diri sendiri dan orang banyak. Seorang pemimpin tidak boleh dan tidak dibenarkan melakukan aksi 'tutup telinga.' Dalam konsep Islam tidak ada orang yang bisa dianggap paling benar. Belajarlah untuk mengetahui cara-cara menjadi pemimpin. Jalankan tugas sebagai pemimpin dan jangan lupa untuk selalu belajar kepada sang guru sejati. Ajarkanlah segala bentuk pengetahuan yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat, sesuai dengan jalur keilmuan dan hikmah. Sebagai guru tidak dibenarkan untuk menghentikan proses penjelajahan ilmu dan hikmah yang luas tak terbatas. Masih ada banyak hantaran kepada kesempurnaan seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila posisi kita sekarang ini sebagai pemimpin, belajarlah membuka mata, telinga dan hati nurani dengan selebar-lebarnya. Jangan tutupi mata kita dengan kepentingan dan kesenangan pribadi. Jangan bersikap mau menang sendiri. Jangan tutupi telinga kita dan beralih kepada nyanyian-nyanyian yang tidak suci. Tidak selayaknya hikmah hanya ditukar dengan suara-suara orang yang memuji. Berusahalah mencari teman dan guru sejati yang berani menunjukkan kebenaran yang mungkin tidak kita sukai. Jangan pula berusaha menutupi kelemahan dan kekurangan, sehingga kita merasa orang lain tidak terlalu berarti. Mari kita tetapkan langkah bersama untuk lebih baik dan maju dengan tiga portal muslim yang menyatu menjadi jiwa penggerak, sebab pemimpinnya mau belajar mendengar aspirasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5826032585302492316?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://nugieshare.multiply.com' length='0'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5826032585302492316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5826032585302492316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/06/belajar-mendengar-aspirasi.html' title='Belajar  mendengar aspirasi'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SHquP7jo4tI/AAAAAAAAAsA/h4L1N_JRZNI/s72-c/ear.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-3811894991196567340</id><published>2008-05-14T11:50:00.004+07:00</published><updated>2008-07-11T19:41:59.515+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><title type='text'>Shetttt, Banyak Telinga Di Sekitarmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SHdUz2e0xZI/AAAAAAAAArQ/Esqy0iPmOjU/s1600-h/Foto039.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 115px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SHdUz2e0xZI/AAAAAAAAArQ/Esqy0iPmOjU/s200/Foto039.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221735542734243218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Omong apa saja rasanya kita harus berpikir berulang-ulang. 1. Jangan sampai perkataan kita menyinggung banyak orang. 2. Jangan sampai ungkapan kita itu menjadikan kita bego di depan banyak orang. 3. Kalau-kalau ada orang yang sirik, pembicaraan kita kan menjadi senjata makan tuan. Maka dari itu berhati-hatilah! Kita hidup prinsipnya untuk lita'arafu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita mau menilai orang, maka dengarkanlah apa yang dibicarakan dan bagaimana caranya ia mengutarakan pikirannya. Perkataan sama dengan pikiran. Pikiran kita adalah pribadi kita. Hal ini berkorelasi dengan bahasa menunjukkan bangsa. Pikiran yang yang sudah dibahasakan dengan apik, masak tidak didengar juga? Sementara kalau memang yang kita bahasakan itu menyinggung self-estem yang murni, ya wajar lah kalau kita pilih diam. Begitu pikiran kita sudah keluar dari mulut, sulit untuk direvisi seperti ketika kita menulis. So bisa dipikir sendiri lah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-3811894991196567340?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3811894991196567340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/3811894991196567340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/05/shetttt-banyak-telinga-di-sekitarmu.html' title='Shetttt, Banyak Telinga Di Sekitarmu'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SHdUz2e0xZI/AAAAAAAAArQ/Esqy0iPmOjU/s72-c/Foto039.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-945320138917628045</id><published>2008-05-13T09:58:00.002+07:00</published><updated>2008-06-28T17:29:26.084+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><title type='text'>Guru harus belajar</title><content type='html'>Dalam satu pelatihan yang aku ikuti kemarin, ada yang perlu aku sharing di sini. Pelatihan itu sebenarnya adalah tentang pemanfaatan ICT dalam dunia pendidikan. Masih banyak sekolah dan guru yang tidak tahu dan belum bisa memanfaatkan ICT dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ungkapan yang rancak disampaikan oleh fasilitator:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau guru tidak memakai seragam, jangan harap siswa mau berseragma&lt;br /&gt;Kalau guru tidak membaca, jangan harap siswa akan pintar membaca&lt;br /&gt;Kalau guru tidak mau menambah ilmu, jangan berharap siswa mau belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja. Tampaknya ungkapan ini, walaupun tidak persis aku mengutipnya, menunjukkan efek langsung dari apa yang dijalani guru terhadap siswanya. Siswa adalah peniru yang baik. Apapun yang ada pada seorang guru, satu atau dua siswanya akan menirukan. Guru memang yang pantas digugu dan ditiru. Kalau yang parah: Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-945320138917628045?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/945320138917628045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/945320138917628045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/05/guru-harus-belajar.html' title='Guru harus belajar'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-7050797930136223856</id><published>2008-05-03T15:33:00.000+07:00</published><updated>2008-06-28T17:30:23.631+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><title type='text'>Menjadi Pemimpin</title><content type='html'>&lt;P&gt; &lt;/P&gt; &lt;P&gt;Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memimpin banyak orang. Tetapi banyak orang yang berkesempatan untuk memimpin. Setidaknya bisa dikatakan bahwa leadership does not belong to a particular person. Semuanya boleh memiliki a good leadership sebab memang sangat diperlukan dalam menjalani hidup baik sebagai individu atau sebagai anggota komunitas tertentu. Posisi pemimpin yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang.&lt;/P&gt; &lt;P&gt;Belajar &lt;/P&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-7050797930136223856?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7050797930136223856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/7050797930136223856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/05/menjadi-pemimpin.html' title='Menjadi Pemimpin'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-4958904504846805901</id><published>2008-04-17T08:33:00.001+07:00</published><updated>2008-06-28T17:30:23.631+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><title type='text'>Menulis dengan hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SEOyL32CA0I/AAAAAAAAASw/-BgHk9wQwYQ/s1600-h/Snow%2Bon%2Bthe%2Bbeach%2B1-27-08.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SEOyL32CA0I/AAAAAAAAASw/-BgHk9wQwYQ/s320/Snow%2Bon%2Bthe%2Bbeach%2B1-27-08.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207201511209304898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="select" href="http://multiply.com/mail/message/indowriters:notes:3"&gt;&lt;/a&gt;Orang kreatif tidak kehilangan ide yang bisa dituliskan dengan gaya apa saja. Berbagai persoalan bisa dituliskan untuk memberikan informasi, berargumen, mempengaruhi orang lain atau hanya sekedar menghibur. Seorang penulis berhak memilih posisi yang mana saja sejak ia duduk untuk menumpahkan segala macam pikirannya. Tulisannya akan selalu terkontrol oleh tingkat imajinasi, kecerdasan nalar, logika dan intelektual, serta dorongan perasaan hatinya. Setelah karya tercipta, penulis bisa dianggap salah dan benar. Kesesuaian 3 kontrol tersebut, melekat baik kepada sang penulis maupun pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya akan membahas tentang kontrol hati terhadap hasil karya penulis. Perasaan hati atau sering diistilahkan dengan bahasa Inggris &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mood&lt;/span&gt; besar pengaruhnya, terutama pada isi dan alur komunikasi. Mood yang bagaimana yang menyebabkan orang menghasilkan tulisan yang cukup provokatif? Apakah dengan mood sedih penulis akhirnya menghasilkan karya 'tragedi'. Apakah mood juga mempengarungi sisi baik buruknya, benar salahnya, valid tidaknya sebuah karya tulis? Penulis yang kreatif sementara waktu tidak terlalu menyoroti masalah tersebut. Maaf! Ketika mood atau suasana hati yang diambilnya ada, penulis akan berprinsip asalkan karya tulisnya tuntas menumpahkan perasaan yang ada dalam hatinya. Selagi masih ada rasa hati yang belum terungkap, penulis belum akan berhenti. Saya yakin ia tak akan merasa puas dengan tulisan yang setengah jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol hati tergantung pada pengalaman hidup, nilai-nilai pribadi dan kepercayaan. Biasanya seorang penulis akan jalan terus bila dirasakan bahwa tulisannya sudah sesuai dengan apa yang mendorongnya untuk menulis.  Jarang ada penulis sukses yang berusaha lari dari fakta-fakta yang tergambar dalam filter hatinya. Seorang penulis tidak ingin menjadi munafik ataupun menjadi narcis dan kemudian membesarkan masalah yang sebenarnya remeh, dan di lain pihak memperkecil masalah padahal masalahnya besar. Pandangan penulis adalah seperti apa yang ada dan tergurat di dalam dadanya. Biasanya kita menemukan istilah sudut pandang. Namun, karena predikatnya adalah hati dan mood, maka frase yang tepat adalah ungkapan rasa,  suara hati, renungan kalbu, atau sentuhan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bisa seorang penulis hanya menuliskan apa-apa yang diminta oleh audience? Bisa! Namun, penulis yang melakukan itu hanyalah mereka yang menghilangkan suara hatinya. Mereka lebih memilih upah yang entah berapa jumlahnya bukan menjalankan misi utamanya sebagai juru penerang. Mereka berusaha menggelapkan hal-hal yang terang dan membuat terang hal-hal yang tidak nyata, samar dan tidak penting. Karya tulis semacam itu tidak langgeng dan jarang bisa menyentuh kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi ini terasa cukup terang kepada mereka yang menulis untuk mencari kebenaran. Akan tetapi, mereka yang selalu mengada-ada tidak akan mengikuti suara hati yang jernih. Konyol akibatnya, sebab selain mereka menipu diri sendiri, mereka akan membodohi orang lain. Dari sini kita boleh memilih. Ada dua jalur berbeda yang perlu cerdas kita menempuhnya. Jalani yang satu, yang lain sudah jauh. Jalani yang lain, kita harus berputar. Jalani keduanya tidaklah mungkin. Pilih... Pilih... Ini barang baru! Ini barang bagus! .... Tertipu lo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nb: Tulisan ini dipersembahkan kepada mereka yang telah mengkritisi tulisan saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-4958904504846805901?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4958904504846805901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4958904504846805901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/04/tempat-kongkow-baru-untuk-penulis.html' title='Menulis dengan hati'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/SEOyL32CA0I/AAAAAAAAASw/-BgHk9wQwYQ/s72-c/Snow%2Bon%2Bthe%2Bbeach%2B1-27-08.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-4824639586795247564</id><published>2008-04-08T13:09:00.005+07:00</published><updated>2009-06-18T01:37:19.025+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita guru'/><title type='text'>Siap Ujian</title><content type='html'>Di saat ujian menjelang seperti sekarang yang akan repot bukan hanya siswa. Guru, kepala sekolah, pegawai, orang tua, polisi, pemerintah dan lain sebagainya akan ikut repot bila sudah dekat masanya ujian sekolah. Secara nasional, ujian sekolah seperti penyakit yang tak akan kunjung habis meski satu generasi siswa sudah kelar. Rutinitas tahunan ini bisa menjadi lahan bisnis bagi siapa saja yang mau---Mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya siswa sebab mereka harus belajar mati-matian agar tidak tersenggol dengan jaring yang dipasang kementrian pendidikan berupa angka kelulusan yang terus melambung. Meski dilihat dari faktor kesulitan tingginya nilai yang perlu dicapai, tetap saja banyak komentar tentang mutu lulusan yang tidak berubah. Kemandirian siswa yang sudah lulus sekolah, pada tingkat es-el-te-a, perlu dipertanyakan. Satu hal kita lihat secara pasti, begitu pengumuman hasil ujian dibuka, maka terhampar bentangan jumlah orang Indonesia yang mendaftarkan diri menjadi penganggur. Mau apa setelah lulus sekolah? Pertanyaan itu tidak pernah terjawab dalam kelas ketika siswa sedang belajar bersama guru mereka. "Saya mau melanjutkan kuliah, pak!" sahut seorang mungkin dengan percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa pula guru dan kepala sekolah bisa repot pada saat ujian? Adalah tanggung jawab mereka agar bisa mengantar siswa mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Begitu diumumkan dan ternyata banyak siswa dinyatakan tidak lulus, rumah kepala sekolah di sebuah kota menjadi hancur diamuk massa yang terdiri dari siswanya sendiri. Guru akan menjadi bulan-bulanan bagi bapak kepala sekolah. Repot tidak? Para pegawai yang terutama di lingkungan dunia pendidikan akan ikut kerja keras, minimal untuk menyukseskan pelaksanaan ujian. Upah mereka boleh dapat. Polisi dan seluruh jajaran terkait di dalam pengaaman ujian nasional juga kebagian nasi bungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rejeki yang banyak diraup barangkali berasal dari kelompok-kelompok bimbingan belajar. Jutaan rupiah sekalipun, orangtua dan wali murid akan bersedia mengeluarkannya. Asal anak-anak mereka menjadi lebih siap dalam menghadapi soal-soal ujian. Para orangtua benar-benar berharap bahwa anak-anak mereka menjadi warga negara yang berguna, mandiri dan penuh harapan dalam menempuh kehidupan mereka di kemudian hari. Berapa dan bagaimana cara yang harus ditempuh, para orangtua siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah agak kerepotan, sekarang ini, mengontrol bagaimana kualitas pendidikan tidak merosot, tetapi masih ada uang jajan di saku. Kerepotan dalam ujian nasional yang sekarang ini sudah banyak menuai kritik sebab dianggap tidak produktif dan justru menggagal perencanaan untuk mengangkat kualitas manusia Indonesia. Pemerintah merasa masih punya andil besar untuk melestarikan, agar uang saku dari banyak pejabat tidak hilang dengar pergantian kebijakan yang tidak sejalan dengan ujian--yang nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-4824639586795247564?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4824639586795247564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/4824639586795247564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/04/ujian.html' title='Siap Ujian'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1428736773863419364.post-5462266097755818319</id><published>2008-04-07T11:19:00.006+07:00</published><updated>2009-06-18T01:34:26.516+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reflective mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petruk bisa jadi ratu'/><title type='text'>Meminimalkan tingkat kejenuhan guru</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Seorang guru tetap manusia biasa. Berbagai perasaan yang biasa dirasakan kebanyakan orang tentu saja masih bisa dirasakan oleh guru, yang banyak orang bilang--digugu lan ditiru. Sering kita mendengar tentang harapan-harapan masyarakat tentang bagaimana seharusnya seorang guru menjalani profesinya. Harapan yang kita dengar sering juga bernada menuntut. Apabila seorang guru gagal memenuhi harapan masyarakat, sebagai imbalannya akan terdengar komentar yang bernada mencemooh dan mencela. Dalam suasana semacam ini sepertinya seorang guru dilarang berbuat salah dan wajib memnuhi kriteria yang telah ditetapkan secara formal atau informal.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembicaraan sekarang kita menyoroti satu sisi kehidupan seorang guru yang monoton dan terpaksa menjalankan kegiatannya secara rutin dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Variasi kegiatan guru sama sekali tidak besar. Selama menjalani kegiatannya sebagai guru, serangkaian program yang jelas terbayang adalah persiapan mengajar, bertemu dengan siswa di kelas, menjalankan program evaluasi, merancang kegiatan remidi dan kemudian balik ke awal program setiap kali ditemui pergantian semster dan tahun ajaran baru. Jelas sangat membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun gurunya, yang berpengalaman dan yang kurang berpengalaman, merasa perlu untuk mencicipi program penyegaran--bentuknya bisa berupa pelatihan, study tour, penelitian dan sarasehan. Inisiatif dari pemerintah untuk melakukan penyegaran pada guru memang sudah terpola dan direncanakan. Dalam prakteknya, tidak semua guru bisa menikmati acara-acara yang menyegarkan profesionalisme guru. Banyak sekali guru yang tidak terjaring dalam acara yang diprogramkan oleh pemerintah--dalam hal ini terkait dengan kepentingan kantor dinas pendidikan dan kebudayaan. Kalaupun sempat dikirimkan undangan untuk mengikuti program pelatihan ke sekolah, tetap tidak semua guru bisa merasakan program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi masing-masing sekolah bervariasi terhadap acara penyegaran profesionalisme guru. Belum terbayang dalam benak kita, ternyata, ada sekolah yang memiliki tenaga pendidikan, yang tidak selalu seorang guru, pasti hadir dalam pelatihan apa saja. Orang tersebut bisa jadi hadir di pelatihan guru bahasa Indonesia, guru bahasa Inggris, guru Matematika dan lain sebagainya. Orang ini adalah tenaga khusus untuk selalu hadir dalam berbagai macam pelatihan. Sementara itu, guru yang memang berkepentingan tidak mungkin lolos seleksi untuk bisa menghadiri pelatihan. Penyaringan ini terjadi di tingkat kebijakan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam acara-acara formal yang semestinya disediakan untuk guru, kita tidak mampu menikmatinya, apa yang bisa dilakukan guru? Inilah poin pokok dalam pembicaraan kita. Bagaimana tindakan guru untuk mencegah kejenuhan yang dialami menjadi semakin akut dan menghambat kinerjanya dalam mengajar?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1428736773863419364-5462266097755818319?l=blogging-teacher.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5462266097755818319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1428736773863419364/posts/default/5462266097755818319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogging-teacher.blogspot.com/2008/04/meminimalkan-tingkat-kejenuhan-guru.html' title='Meminimalkan tingkat kejenuhan guru'/><author><name>Bojonegoro Blogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03337966795716901482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_gRrPfpVH4ow/Sr-rtYSAb8I/AAAAAAAAEAc/ReWuPpHOtok/S220/DSC02831.JPG'/></author></entry></feed>
